Skip to content

Teater Sekolah dan Intimidasi Sosial

Dilarang Berteater

Hampir di semua sekolah-sekolah negara maju dan sekolah-sekolah internasional, teater menjadi bagian dari intrakulikuler. Tujuh puluh sembilan persen SMA-SMA di Amerika Serikat, misalnya, memiliki setidaknya satu kelas drama, dan 95 % dari seluruh sekolahpunya ekstrakulikuler teater—artinya beberapa sekolah yang punya kelas intrakulikuler juga punya ekstrakulikuler (Robelen, 2012).

Sistem pendidikan internasional sadar bahwa teater sangat penting untuk membentuk karakter siswa—kalau bukan menjadi aktor panggung atau film, siswa kelak bisa menjadi aktor sosial yang baik dan berperan aktif di masyarakat. Namun di Indonesia, keadaannya sangat berbeda. Teater kebanyakan menjadi ekstrakulikuler saja.

Banyak sekolah membatasi gerak bahkan meniadakannya dan mengganggap teater sebagai hal yang kurang penting—tak sepenting agama atau sains. Tentu tidak semua sekolah seperti ini. Ada sekolah-sekolah (kebanyakan swasta dan nasional-plus) yang ingin mengikuti standar internasional dan menempatkan teater dalam posisi yang terhormat di antara pelajaran-pelajaran lain di sekolah.

Namun, sekolah yang meminggirkan teater masih mendominasi. Karena itu dalam tulisan ini, secara spesifik saya akan berbagi pengalaman saya berteater semasa SMA dulu. Tulisan ini akan memfokuskan kepada pengalaman subjektif dan personal saya, sebagai satu contoh kecil dari fenomena besar teater sekolah di Indonesia. Sebuah pengalaman yang memberikan saya banyak pelajaran hidup: yang manis dan yang pahit.

*****

Yang Manis

Setiap orang selalu punya cerita tentang masa remajanya, begitupun saya. Ibu saya mendaftarkan saya ke sekolah kejuruan,agar punya bekal keterampilan supaya dapat cepat bekerja. Singkat cerita, saya diterima di sebuah SMK di daerah Cimahi(saya tidak bisa sebutkan nama SMK atau kelompok-kelompok di sana untuk melindungi privasi beberapa pihak) dan setelah melewati acara orientasi siswa baru akhirnya saya pun dihadapkan pada pemilihan ekstrakulikuler. Saya memilih teater.

Latihan teater bukan sesuatu yang mudah. Latihan fisik, olah sukma, pernafasan dan lain-lain harus selalu diulang-ulang dan cukup keras. Lambat laun saya menemukan hal lain yang lebih menarik daripada keinginan untuk belajar atau jadi eksis: pendalaman peran.

Bicara teater ternyata bukan hanya tentang pemeranan dengan segala tetek bengeknya diatas panggung saja. Ada bagian-bagian lain di teater seperti tata panggung, musik, kostum dan lain-lain yang juga menarik. Saya rasa semua itu soal peran, entah sebagai pemain atau bagian produksi, di atas panggung atau di luar panggung. Bagi saya semua peran selalu sama dan selalu penting.

Seperti kata bapak teater realisme Rusia, Konstantin Stanislavski (dalam Vanderbroucke, 2001), “Tidak ada peran kecil, yang ada hanyalah aktor berjiwa kecil.”

Aktor berjiwa besar akan tak peduli peran apakah ia menjadi peran utama, figuran atau bagian produksi belakang panggung. Satu sama lain, semuanya bersifat saling melengkapi. Sesingkat apapun peran itu, semuanya selalu mengajarkan saya untuk dapat terus bisa ‘memanusiakan manusia’.

Dengan kata lain, berperan adalah salah satu cara melatih kepekaan kita pada kehidupan.Itulah esensi yang sebenarnya bagi saya dalam dunia teater.

Dari pengalaman saya yang sedikit itu, saya lalu mencoba berkesimpulan bahwa teater tak lain adalah sebuah simbol dari kehidupan. Seperti kata Shakespeare yang sudah jadi puisi dan lagu Indonesia, “Dunia ini panggung sandiwara,” (As You Like It, Babak II: 7).

Tuhan telah menuliskan naskah cerita dan membagi-bagikan peran pada setiap manusia sebagai para pemain dan dunia adalah panggungnya. Sebelum pertunjukan dimulai, maka Tuhan telah lebih dulu berganti menjadi sutradara, ‘mengarahkan’ para pemain pada alur.

Namun kelak pada saat tirai panggung dibuka, tentu Sang sutradara sudah duduk dibangku penonton. Ia tidak akan bisa berbuat apa-apa, hanya ingin duduk manis sambil memperhatikan panggung dengan jeli dan berharap-harap cemas semua akan sukses sesuai rencana.

Pada akhirnya sebuah pementasan teater adalah hasil kerja keras. Sekarang bisakah anda bayangkan hasil kerja keras anda dihancurkan dengan mudahnya? Saya tidak bisa membayangkan; saya mengalaminya.

*****

Yang Pahit

Saya ingin berbagi sebuah pengalaman yang sangat emosional dan penuh pertanyaan.Beberapa kali ketika bermain di sekolah, pementasan saya dicekal oleh sebuah organisasi ‘penjaga moral’ di sekolah. Yang paling lucu, satu waktu sehabis pentas,saya dan para pemain lainnya pernah dipaksa meminta maaf dihadapan umum, karena menurut mereka, kami melakukan adegan yang tidak menyenangkan; melanggar moral.

Padahal sungguh, kami hanya menampilkan adegan berpegangan tangan, itupun hanya berupa siluet dan terjadi dalam beberapa detik. Tidak sampai bercium-ciuman apalagi bertelanjang. Sedikitpun tidak ada maksud ke arah erotisme (mereka menyebutnya demikian, ya ampun!). Padahal adegan tersebut murni hanya untuk penjelas cerita.

Kejadian yang sama kemudian terulang lagi, malah lebih parah. Ketika sedang mendemonstrasikan ekstrakulikuler, organisasi yang tadi mencekal kami membubarkan penonton, para siswa baru. Tak terbayangkan perasaan kami pada waktu itu.

Sekali lagi ketika ditanya kenapa mereka melakukan hal itu, mereka memberi jawaban yang sama: atas nama moral. Moral, moral dan moral!

Apakah moral sekarang sudah menjadi komoditi paling jitu untuk orang berlaku sewenang-wenang dan tidak menghormati orang lain? Jadi yang bermoral benar itu yang bagaimana? Yang sistematis dan dipaksa-paksakan?

Oh sungguh, tapi pertanyaan itu hanya membawa saya dan kawan-kawan saya lainnya berulah debat kusir dengan anak-anak itu (para antek organisasi ‘penjaga moral’itu).

Saat itu pula masalah berlanjut sampai ke pihak sekolah. Tapi seperti yang sudah-sudah, tidak ada penyelesaian betul-betul. Mungkin sekolah menganggap masalah organisasi adalah hal remeh temeh–seperti permusuhan anak kecil yang besok pagi juga bisa tiba-tibabaikan lagi.Lagipula yang bermasalah anak teater, lekat dengan kesan ‘si pembuat onar’.

Jadi dianggapnya hal yang sangat biasa. Setelah ribut panjangakhirnya mereka (para antek organisasi ‘penguasa’) menghadiahi kami sebuah permintaan maaf.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya kelompok-kelompok teater seperti teater saya hanya bisa diam atau didiamkan alias bubar. Saya tidak hendak membebaskan sebebas-bebasnya sebuah kesenian.

Memang ada konteks buat semuanya, dan sayangnya di sekolah saya dulu konteks itu adalah zaman kegelapan Eropa dimana gandengan tangan antar lelaki-perempuan yang bukan muhrim dilarang. Tidak ada logika atau argumen yang bisa diterima oleh kaum ‘penjaga moral’ itu, yang sekarang saya yakin banyak ada di sekolah-sekolah lain dan berusaha membuat siswa menjadi robot.

Itu semua sudah berlalu, namun saya rasa harus dicatat. Karena jika dibiarkan, niscaya generasi ke depan bisa-bisa banyak yang tidak bisa mengecap manisnya teater, hanya pahitnya sekolah dalam sistem yang bobrok.

—————————-

Referensi:

Robelen, Erik. (2012). “Theater ‘Alive and Well’ in U.S. High Schools, New Data Suggest.” Diunduh dari http://mobile.edweek.org/c.jsp?DISPATCHED=true&cid=25983841&item=http%3A%sFblogs.edweek .org%2Fedweek%2Fcurriculum%2F2012%2F12%Ftheater_alive_and_well_in_US_h.html, tanggal 3 September 2013, pukul 03:30.

Shakespeare, William. (2007). “As You Like It”. The Complete Works of William Shakespeare. Great Britain. Wordsworth Classic. Hal 621.

Stanislavski, Konstantin dalam Russel Vanderbroucke (2001). The Theater Quotation Book: A Treasury Insight and Insults. New York. Proscenium Publisher, Inc.

 

Ida Haryati
Ida Haryati Contributor

Perempuan yang hobi membaca sambil minum kopi sehabis hujan ini lahir di Bandung, 11 Agustus 1992. Freelancer animator. Penyuka sastra. Tertarik animasi, teater, dan design. “Jangan lagi tanya aku itu siapa, yang jelas aku itu perempuan dan perempuan itu kompleks. So, woman doesn’t like being question”

2 Comments

  • Ayu Welirang (@ayuskeptika) 02/10/2013 // 11:37 pm

    Idaaaaa! Oh Ya Tuhaaaaaaaaaaan. Dulu kan gue ada di ‘organisasi moral’ itu. Tapi mereka setengah mati nyuruh gue ‘ngaji’ supaya gue gak bisa main musik di Marching Band yang juga sering dikecam seperti halnya mereka mengecam Teater. Hahahaha. Sialan banget yaaa emang mereka ini. :)))

    Reply
  • Teater Sastra UI 03/10/2013 // 10:26 am

    Wah, ikutan marching band pun dikecam ya? Gimana pendapat teman-teman tentang terbatasnya ruang gerak siswa untuk berorganisasi di sekolah? Seberapa pentingnya sih berorganisasi itu? Yuk kita diskusi di sini.

    Reply

Leave a Reply