Skip to content

PRODUKSI TEATER “TRAGEDI MACBETH”: Sebuah Katarsis Pembelajaran

Bagong, saat membuat properti untuk pementasan Tragedi Macbeth

Produksi sebuah pementasan teater tidak memiliki rumus yang tetap atau saklek. Dalam sebuah kebudayaan industri seperti Broadway, misalnya, ada aturan-aturan industri yang mengharuskan kerapihan struktur hierarki, pembagian kerja yang jelas, dan profesionalitas.

Anda bisa bayangkan orang-orang yang pekerjaannya ‘hanya’ aktor; seharian mereka hanya latihan dan mentas tanpa harus mencari penghasilan lain di luar panggung.

Sementara itu, di konteks-konteks lain, mode produksinya berbeda. Pada teater tradisi atau teater komunitas yang terdiri dari orang-orang amatir atau semi-profesional, mode produksinya seringkali berbentuk paguyuban, yang modal utamanya adalah modal sosial dalam bentuk gotong-royong dan hubungan sosial.

Dalam mode ini, pekerjaan sering kali overlapping, para pekerjanya saling berimprovisasi, mengisi ruang-ruang kosong tanpa komando dan struktur yang benar-benar jelas. Banyak hal berlangsung secara ajaib: seperti konsumsi yang tidak pernah habis, pemain yang tiba-tiba diganti tapi malah bagus, atau orang yang selama latihan kurang baik ternyata di panggung menjadi bintang.

Namun kejadian sebaliknya juga mungkin terjadi. Pementasan dengan mode produksi amatir atau semi-profesional sangat rentan kegagalan—walau seringkali, penonton mereka yang kebanyakan juga punya hubungan sosial dengan kelompok teater amatir atau semi-profesional tersebut (sanak saudara atau teman-teman), biasanya akan memaklumi kesalahan-kesalahan teater saudara atau kawan mereka.

“Tidak ada industri teater di Indonesia,” ujar Yudhi Soenarto, sutradara Teater Sastra UI.

Pernyataan ini mungkin kontroversial, karena banyak yang sudah membuat teater musikal atau pementasan-pementasan yang secara komersial sukses. Namun jika kita melihat industri sebagai mode produksi dimana (1) kelompok teaternya punya gedung sendiri, (2) manajemen yang profesional, dan (3) pementasannya bisa memainkan lakon yang sama selama puluhan tahun; maka kata-kata Yudhi Soenarto tadi benar adanya.

Sejauh ini rekor lamanya pementasan masih dipegang Teater Koma, yang bisa pentas lebih dari delapan puluh kali (Sam Pek Eng Tay). Belum ada catatan pementasan teater yang berlakon sama lebih dari setahun secara reguler seperti Broadway. Teater Sastra UI-pun adalah teater semi profesional (kalau bukan amatir).

Beberapa anggotanya telah menjadi pekerja teater berpengalaman (walaupun tidak menjadi profesi utama, hingga belum bisa disebut profesional), namun kebanyakan pekerjanya adalah mahasiswa yang belum berpengalaman alias amatir. Mode produksinya masih bisa dibilang paguyuban daripada profesional—seperti kebanyakan teater komunitas di Indonesia.

Manajemen dan anggota aktif selalu beregenerasi dari angkatan ke angkatan, membuat profesionalitas menjadi sesuatu yang jarang ada—tergantung SDM angkatannya. Mode produksi-pun bisa berubah tergantung SDM yang sedang tersedia.

Tulisan ini akan bercerita tentang salah satu produksi kolosal terbesar Teater Sastra UI Tragedi Macbeth karya William Shakespeare yang dipentaskan pada 2009 dan melibatkan lebih dari 100 orang kru dan pemain. Pementasan ini penting karena ia melebihi ekspektasi kebanyakan orang soal teater kampus: kualitas akting puluhan aktor cukup terjaga, penonton membludak secara komersial, produksi memakan biaya hingga ratusan juta, dan ini semua dikerjakan oleh teater semi-profesional.

***

Pada sebuah rapat di malam hari pada awal 2008, beberapa anggota Teater Sastra UI berkumpul untuk merumuskan rencana pementasan akbar memperingati 25 tahun berdirinya teater kampus tersebut. Sebuah wacana untuk mementaskan karya Shakespeare “Tragedi Macbeth” yang diterjemahkan oleh I.Yudhi Soenarto, sutradara, pelatih, sekaligus pendiri Teater Sastra UI, muncul di tengah pertemuan tersebut.

Kesepakatan diambil untuk membawa Macbeth ke panggung dengan saya yang pada saat itu masih bocah ingusan yang belum berpengalaman banyak di dunia teater, terpilih menjadi manajer produksi pementasan tersebut. Boleh dibilang ini keputusan yang gila karena sebelumnya dalam pementasan “Sayang, Aku HIV. Kamu Ngapain Aja?” (GBB, TIM, 2008), saya hanya bertindak sebagai pembantu umum yang mengurusi banyak hal mulai dari mencari dana hingga tukang bagi-bagi makanan bagi para pemain dan kru.

Namun, entah mengapa tawaran itu saya ambil. Pertimbangannya pada saat itu adalah saya ingin belajar banyak tentang teater. Kecintaan saya terhadap dunia teater mulai tumbuh bersama peran tersebut.

Berikut ini akan saya tuliskan pengalaman tersebut dalam beberapa seri tulisan. Sebenarnya saya bisa menggunakan teori dari sebuah buku manajemen panggung (Ionazzi, 1992) yang menjadi pegangan pada saat itu—sesuatu yang idealnya diikuti tetapi pada praktiknya malah terpaksa dilanggar agar pementasan bisa terlaksana.

Buku itu mengajarkan saya banyak hal, tapi pengalaman membuatsaya untuk lebih percaya idiom learning by doing. Jadi, semoga saja paparan pengalaman saat menyiapkan pertunjukan teater tersebut dapat berguna bagi Anda semua sebagai referensi saja—anda tetap harus melakukannya sendiri dan berimprovisasi.

Sebagai sebuah teater kampus yang banyak masalah, mulai dari kesulitan dana hingga sumber daya manusia, tiga unsur utama yang menurut saya wajib dimiliki oleh seorang pimpinan produksi adalah komando, ketegasan, dan cinta. Ketiga unsur tersebut menjadi penting karena fase persiapan pementasan adalah bagian paling menyebalkan, memuakkan, dan sarat akan ledakan emosi.

Kendati demikian, saya yakin Anda yang sukses melewati fase ini akan berkembang setingkat lebih baik dari sebelumnya.

—————————–

Bersambung ke tulisan berikutnya…

Maftuh Ihsan
Maftuh Ihsan Editor

Menjalani kehidupan bersama Teater Sastra UI sejak 2006, Maftuh telah bermain dalam beberapa pementasan seperti “Rumah Bordil Inc.” (2007), "Tragedi Macbeth" (2009), Trilogi "Sketsa Robot" (2010), dan "Baju Baru Sang Raja" (2011). Saat ini dia bekerja sebagai reporter di salah satu media cetak ekonomi ternama di Indonesia.

Leave a Reply