Skip to content

PRODUKSI TEATER (BAGIAN TERAKHIR): Ketika Semangat Surut…

DSC_9925

Proses persiapan pementasan teater biasanya memakan waktu cukup panjang. Pasang surut semangat para staf kepanitian juga sering terjadi. Setidaknya Anda harus tegas pada timeline yang telah disepakati bersama. Jangan sampai salah satu pekerjaan molor karena akan berdampak pada pekerjaan lainnya. Sebagai contoh, tidak adanya kejelasan dari sponsor biasanya akan menjadi penghancur semangat bekerja para staf. Namun, perlu diingat bahwa sumber pendanaan pementasan tidak hanya berasal dari sponsor.

Banyak cara lain yang dapat digunakan seperti mencari donatur, ngamen, berjualan, serta cara lainnya. Jujur, pementasan “Tragedi Macbeth” kekurangan dana. Kami mengantisipasinya dengan mengejar jumlah penonton.Trik ini berhasil. Uang tiket hasil penjualan tiket penonton yang membludak setidaknya mampu menutupi sebagian besar kekurangan dana tersebut. Pada hari pertama dan kedua pementasan Macbeth, tiket sold out walaupun pada hari ketiga ada jumlah penonton sedikit menurun.

Namun, trik tersebut hanyalah salah satu dari banyak cara yang ada. Anda sebaiknya mendiskusikan lagi dengan staf kepanitian guna  menentukan solusi terbaik masalah tersebut, apakah dengan meminjam uang di bank, menggadaikan barang, atau cara-cara esktrem lainnya.

Seperti perkataan sutradara Macbeth I.Yudhi Soenarto, hampir sebagian besar teater di Indonesia kekurangan dana. Dengan kata lain, teater-teater tidak berkecukupan ini harus bekerja esktra keras untuk mementaskan sebuah naskah drama.

“Setiap teater harus mempunyai semangat hidup, gairah hidup. Ini yang membuat mereka [grup teater] dapat survive,” ungkap Yudhi pada sebuah sesi evaluasi latihan.

Teater Sastra UI juga masih menghadapi permasalahan yang sama. Namun, berkat kalimat penyemangat penuh harapan itu, teater kampus yang tahun depan genap berusia 30 tahun tersebut masih mampu menggelar berbagai pementasan hingga saat ini.

Cinta Teater

Terakhir, Anda harus memiliki cinta. Cinta kepada teater Anda, cinta akan diri Anda sendiri, dan belajar mencintai serta menghargai rekan-rekan Anda.Pada sebuah fase persiapan pementasan, bersiaplah untuk melewati momen ‘pementasan harus dibatalkan’ karena berbagai alasan teknis. Pada momen ini, Anda akan mengalami gejolak emosi yang sangat kuat dan bercampur aduk.Namun, seperti perkataan sutradara saya: “The show must go on!”, artinya tidak ada kata untuk mundur. Secara logika, mundur itu sah-sah saja, tetapi dengan kecintaan terhadap teater, maka logika itu kedaluwarsa.

Membangun kecintaan pada teater ini penting karena, menurut saya, sebuah teater dibangun dari rasa cinta dan kebersamaan. Mungkin terdengar klise. Namun, saya sudah melihat buktinya dari beberapa anggota Teater Sastra UI yang masih bertahan walaupun saat ini mereka telah lulus kuliah, bekerja, hingga berkeluarga.Selain itu, rasa cinta juga diperlukan agar Anda, sebagai seorang pemimpin, menjadi lebih sensitif terhadap rekan sesama panitia baik produksi maupun panggung. Terkadang banyak permasalahan di luar konteks pementasan terjadi pada mereka yang dapat menurunkan produktivitas kerja.Oleh karena itu, diperlukan sesi berbagi cerita yang waktunya dapat diatur sedemikian rupa, sehingga Anda mengetahui bidang produksi mana yang sedang bermasalah dan segera dapat dicarikan solusinya.

***

Sebagai penutup, Macbeth, seperti kata salah seorang teman saya yang kini masih aktif di Teater Sastra UI, adalah sebuah katarsis. Begitu pula bagi saya. Peran yang saya mainkan dalam pementasan itu, baik sebagai pemain maupun manajer produksi, juga merupakan sebuah katarsis; katarsis pembelajaran yang bukan hanya membuat setiap personel mendapatkan kenikmatan dan kepuasan batin, tapi juga membuat hubungan sosial bertambah kuat. Ada kajian sosio-psikologis teater untuk hal ini yang saya rasa penting untuk dilihat. Lev Vygotsky (1896-1934), ahli psikologi perkembangan kognitif asal Rusia, yang dikutip oleh Smagorinsky (2011) mengatakan bahwa perubahan hubungan sosial antar aktor sangat mungkin terjadi melalui katarsis, sesuatu yang terjadi pada banyak orang yang terlibat dalam “Tragedi Macbeth” (baik aktor maupun tim produksi) dikarenakan:

Catharsis involves “an affective contradiction, causes conflicting feelings. And leads to the short-circuiting and destruction of these emotions” (Vygotsky, 1925/1971, p.213). This process leads to “a complex transformation of feelings” (p. 24) and result in an “explosive response which culminates in the discharge of emotions” (p.247) as one overcomes, resolves, and regulates feelings through a process of generalization of those feelings to a higher  plane of experience. (Smagorinsky, 2011: p.332)

Katarsis melibatkan “sebuah kontradiksi emosi, menyebabkan perasaan-perasaan yang saling berkonflik. Dan membawa kepada hubungan arus pendek dan hancurnya emosi-emosi tersebut.” Proses ini membawa kepada “sebuah transformasi kompleks dari perasaan-perasaan” dan menghasilkan “respon meledak-ledak yang berakhir dengan dilepaskannya emosi” ketika orang mengatasi, menyelesaikan dan mengatur perasaannya melalui sebuah proses generalisasi perasaan-perasaan tersebut menuju tahap yang lebih tinggi dari pengalaman.

Dalam banyak sisinya, hasil dari katarsis bisa membuat satu kelompok, apalagi yang semi-profesional bermodal sosial, tambah kuat dan romantis—bukan  hanya sebagai sahabat dan saudara, kadang-kadang sampai cinta lokasi. Jika katarsis dan kekuatan hubungan sosialnya sudah didapatkan, tinggal mempertahankan ‘usaha untuk tetap profesional’, agar kelompok anda tetap solid.

 

Referensi Bacaan:

Ionazzi, Daniel A. “The Stage Management Handbook.” Betterway Books, 1992.

Smagorinsky, Peter. “Vygotsky’s Stage Theory: The Psychology of Art and the Actor under the direction of Perezhivanie.” Dalam Mind, Culture and Activity, 18: 319-341.  Routledge, 2011.

Maftuh Ihsan
Maftuh Ihsan Editor

Menjalani kehidupan bersama Teater Sastra UI sejak 2006, Maftuh telah bermain dalam beberapa pementasan seperti “Rumah Bordil Inc.” (2007), "Tragedi Macbeth" (2009), Trilogi "Sketsa Robot" (2010), dan "Baju Baru Sang Raja" (2011). Saat ini dia bekerja sebagai reporter di salah satu media cetak ekonomi ternama di Indonesia.

Leave a Reply