Skip to content

Menyoal Budaya Melalui Pentas Teater

Musuh Masyarakat 7

“Kalian semua … membanggakan!”

Seru-seruan itu beberapa kali menggema di sebuah auditorium di Wisma Makara UI, Depok, pada hari Selasa lalu (25/2/2014). “Program Kepemimpinan Calon Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia Angkatan IX” tertera jelas pada sebuah baliho yang menjadi backdrop panggung kecil minimalis. Pada pukul 13.00, seteleh dengan terburu-buru membenahi rias wajah secara kilat, kami bergabung dengan peserta di sana, lantas menguasai panggung.

Teater Sastra UI (Tesas) kembali diundang untuk mengisi sebuah diskusi perihal kebudayaan Indonesia. Lazim sudah rasanya jika Indonesia disebut-sebut sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam dan budaya etnis. Sebut saja Tari Pendet dari Bali, Kain Ulos dari Suku Batak, Upacara Bakar Batu di Papua, Alat Musik Angklung dari Jawa Barat, dan banyak lagi – saking banyaknya hingga banyak contoh-contoh kebudayaan Indonesia yang terdengar asing di telinga kita dan nihil dalam memori otak kita.

Namun, jika kita kembali kepada esensi dari kebudayaan yaitu bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar, sesuai pernyataan Koentjaraningrat, muncul kecacatan logika di sini. Kecacatan yang dimaksud adalah jika begitu pengertiannya, tari-tarian, upacara-upacara, dan segala apa yang dapat kita anggap sebagai bentuk budaya itu bukan milik Indonesia.

Kebudayaan-kebudayaan tersebut adalah milik suku bangsa-suku bangsa tertentu, sebagaimana rasa kepemilikan hadir hanya dalam diri mereka yang lahir sebagai bagian dari suku bangsa tersebut. Rasa kepemilikan ini tidak dapat dibagi begitu saja kepada segenap bangsa Indonesia. Jadi, apa Indonesia memiliki kebudayaan?

Apa itu kebudayaan Indonesia dan bagaimana baiknya kita menyikapi masalah apatisme terhadap kebudayaan nasional didiskusikan dalam acara ini. Sebagai pengantar, Tesas membawakan sebuah pementasan sederhana sebagai ilustrasi diskusi. Segera panggung disulap menjadi kediaman seorang pelatih silat kenamaan tanpa artistik panggung yang istimewa, tetapi dengan metode keaktoran dan tatanan musik khas Tesas.

Sebuah konflik dipaparkan dengan amat sederhana: pertentangan antarpandangan – menetap di Indonesia dan mempelajari kebudayaannya atau pindah ke lain negara. Kami berhasil menyajikan sebuah pementasan yang cukup menghibur untuk ukuran sebuah pementasan yang diadakan di atas panggung kecil untuk diskusi dan jangka waktu persiapan yang pendek – kurang lebih satu minggu.

Pementasan berakhir dengan para aktor tetap berpegang teguh pada opini masing-masing dengan alasan yang sama kuat dan masuk akalnya. Ada yang tetap berangkat ke Amerika dan meninggalkan Indonesia untuk penghidupan yang lebih layak. Ada pula yang setia mengabdi di Indonesia.

Jawaban paling baik dari konflik ini lantas dikembalikan kepada masing-masing pribadi untuk direfleksikan sendiri. Namun, I Yudhi Soenarto, selaku sutradara dan guru Tesas, menekankan bahwa pada pandangan mana pun kita labuhkan pilihan, kita harus tetap siap untuk menghadapi persaingan. Negara Indonesia pada dasarnya dinilai potensial, tetapi sistem yang bobrok menarik paksa seluruh aspek kehidupan bangsa dan negara menuju jurang degradasi yang suram; negara yang hidup dari, oleh, dan untuk angka.

Namun, beliau mengingatkan agar kita tidak patah arang. Negara ini masih memiliki harapan: insan-insan muda cerdas yang hendaknya memperbaiki Ibu Pertiwi. Dari sini kembali kita kaitkan dengan isu kebudayaan Indonesia. Pernah dengan sadar I Yudhi Soenarto menyatakan bahwa Indonesia pada faktanya tidak memiliki kebudayaan apa pun, tetapi sekali lagi, jangan sampai kita patah arang.

Koentjaraningrat memberikan sebuah kata kunci dalam teorinya mengenai pengertian kebudayaan: “dijadikan milik diri manusia dengan belajar”. Dengan proses dan pembelajaran, kebudayaan Indonesia dapat kita rumuskan sendiri.

Oleh karena itu, sebagai insan muda Indonesia, para pelaku teater dan seniman-seniman lain tetap wajib berkarya sebagai bentuk kontribusi dalam memperbaiki negeri dan ikut serta dalam proses pemberadaan kebudayaan di Indonesia. Dalam seni teater, kita berbicara lewat kritik sosial – otak dari sebuah pementasan – salah satunya untuk meningkatkan kesadaran dan ketertarikan masyarakat terhadap isu kebudayaan Indonesia yang masih nihil ini.

Seperti saja proses berteater yang diceritakan oleh Augusto Boal dalam tulisannya “The Pedagogy of Fear” terkait dengan peristiwa 9/11, ketika masyarakat berusaha untuk lupa dan tidak peduli untuk lari dari kenyataan, teater justru memaksa kita untuk mengingat dan melihat kenyataan, sepahit apa pun, lantas berdamai dengannya.

Walaupun tidak didengarkan, kita harus tetap berbicara. Jangan sampai bungkam dan bisu! Era dengan pemuda-pemudi yang diam adalah era yang mati.

Ketika Bung Descartes menyatakan “Cogito Ergo Sum” – “I think, therefore I am” – I Yudhi Soenarto mengutip dan menekankan yang lain: “I am useful, therefore I am”. Tetaplah berkarya, mengingat, mengemban, dan terluka.

“Kalian semua mem… bang… ga… kan… MEMBANGGAKAN! WUZZ!” (ad)

ad
23/3/2014

Claudia
Claudia Contributor

Mahasiswi Program Studi Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini resmi bergabung ke dalam Teater Sastra UI sejak 2014. Alumni aktif PSUMB, anggota IKMI UI aktif, dan Staff Departemen Seni Budaya BEM FIB UI. Keseharian gadis yang doyan menulis ini selalu dipenuhi canda tawa.

Leave a Reply