Skip to content

Mengintip Dapur Teater Sastra

DSC_2494-1132x509

 

 

(Sebelumnya telah ditulis oleh Dian Putri dan diterbitkan oleh Teater Kinasih)

Menonton sebuah pentas teater mungkin sudah biasa disaksikanoleh pecinta seni. Namun kali ini berbeda, kita diajak mengintip dapur Teater Sastra Universitas Indonesia (Tesas UI), sebelum mementaskan naskah berjudul Titipan dalam produksi ke-391A.

Pentas yang digelar Senin (5/6) di gedung IX Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI ini mencoba memperlihatkan kepada penonton, hiruk pikuk sebelum pentas dimulai. Di muka ruangan, terlihat beberapa pemain yang masih berhias diri, kru pentas menggotong properti, penata lampu pun masih menggotak-atik spot lampu.

Sebuah pemandangan yang cukup langka ditemui dalam sebuah pentas teater. Wajarnya penonton sudah disajikan “kudapan” matang untuk disantap, tapi kali ini Tesas menyuruh kita melihat proses memasaknya dulu di dapur mereka.

Sesampainya di dalam ruang pertunjukan, telinga disapa oleh pembawa acara yang sahut-sahutan dengan kru panggung. “Bentar ya lagi masang set, bentar lagi,” ujar Imam Aziz, manajer panggung.

Tak ketinggalan di tengah panggung, delapan orang pemain sedang menunjukan olah tubuh singkat. Sampai pada akhirnya acungan jempol dari sutradara, Maftuh Ihsan menandakan persiapan pra produksi sudah siap.

Diceritakan sebuah problematika keluarga Jayanegara, seorang pengusaha mebel yang hampir bangkrut. Untuk mengatasainya, keluarga Jayanegara meminta bantuan kepada pengusaha konveksi, keluarga Danadyaksa. Jadilah keduanya memiliki kesepakatan hitam di atas putih yang kelak menjadi bumerang bagi keduanya.

Pernikahan atas dasar bisnis itu takkan berjalan harmonis, tak ada landasan cinta antar keduanya. Seperti yang bisa ditebak, kondisi psikologis anak di keluarga broken selalu seksi tuk diangkat sebagai cerita. Anindya, anak semata wayang dari keluarga Jayanegara adalah korban dari konflik orang tuanya. Anindya, harus merasakan pedihnya hidup miskin perhatian dan afeksi dari orang tua.

Tiga orang pria di usia nanggung bersama Anindya pulang kerumah. Tak lupa sebagai oleh-oleh pasca kecelakaan, tangan dan kaki Anindya dibalut perban.

Seperti pada kisah klasik kebanalan remaja pada umumnya, ketiga lelaki di usia nanggung tadi memanfaatkan kondisi mental Anindya yang lemah. Ya, betul. Tentu saja tuk dapatkan uang,friends with benefit.

Ketiga lelaki usia tanggung tadi sadar betul potensi finansial Anindya, seorang anak pengusaha dan politikus. Narkotika, alkohol jua adegan banal memperkosa pembantunya sendiri Mba Tika, menjadi cara Anindya tuk membunuh kesepiannya.

Naskah tiga babak ini bercerita dengan alur mundur. Dengan set tetap di sebuah ruang tamu. Yang berubah hanyalah lukisan dan pergeseran sofa sebagai penanda waktu yang berbeda.

Babak selanjutnya makin menunjukan kepedihan batin Anindya, di masa pubernya dulu ketika Sekolah Menengah Atas (SMA), Ia harus menyaksikan konflik orang tuanya. Sebuah luka yang makin menganga sedang diukir kedua orang tuanya. Jua di saat itulah, Anindya tahu Ia bukan anak kandung dari keluarga Jayanegara. Adia Daniaksa, ibu Anindya ternyata dulu hamil di luar nikah dengan pria lain. Tuk menutupi aib itu, Adia dinikahkan dengan Aditya Jayanegara, politikus yang tabiatnya bak tikus. Yang makin menambah panjang daftar politikus korup nan bermulut manis di awal kampanye.

Kisah ditutup dengan memutar kembali Anindya di waktu kecil. Bocah polos itu harus jadi pengemis kasih sayang sedari kecil. Hanya ada Mbak Tika, yang memeluknya erat.

Konsep Baru Menonton Teater

Di tengah banyaknya sajian pentas teater kampus, Tesas mencoba berikan alternatif yang cukup segar secara ide yakni membuat konsep nonton latihan. “Ini adalah hasil diskusi kami (Tesas, Red) untuk membuat pentas ini bahkan, kami hanya mampu menghadirkan seluruh kru dan pemain di 3 kali latihan,” ujar I. Yudhi Soenarto, supervisi Tesas.

Dapur tesas begitu kaya sumber daya manusia, para mahasiswa sedang dicetak menjadi koki handal di dapur mereka. Meski amat terasa kurang matangnya kudapan yang mereka sajikan. Vokal yang kurang terdengar, kurangnya pendalaman karakter tiap pemain dan yang mendasar adalah naskah.

Beberapa adegan dalam pentas ini cukup cacat logika. Seperti dalam adegan Mba Tika diperkosa secara bergiliran, tubuh Mba Tika tak diperkosa, hanya suara jeritan yang menandakan terjadinya perkosaan. Tubuhnya tak terseok-seok, tak ada luka di pangkal pahanya, tak ada sense of belonging pada tubuhnya selayaknya orang yang habis diperkosa. Tubuhnya bugar saja, bahkan langsung menenteng tas kemudian pergi.

Dengan fasilitas gedung kedap suara yang apik, tentunya menjadi amat disayangkan bisa terjadi kurang terdengarnya vokalpemain. Namun secara keseluruhan, nonton latihan ini cukup menarik. Tesas berhasil mengajak penonton memahami, bahwa teater bukanlah seni yang instan. Tiap koki dan kru dapur harus punya pisau yang tajam agar dapat menyajikan kudapan bergizi bagi yang hadir.

 

sumber : http://teaterkinasih.org/2016/04/13/mengintip-dapur-teater-sastra/

Teater Sastra UI
Teater Sastra UI Administrator

Leave a Reply