Skip to content

Mengimbangi Jejak Waktu Lewat Seni Teater

Sosok-sosok 1985 (2)

Kala itu langit telah terlalu gelap bagi dua perempuan di bawah umur, maka saya dan teman saya memutuskan untuk menyudahi saja persuaan kami di perpustakaan bilangan Proklamasi, Jakarta Pusat. Puas berbincang dan bertukar pikiran, kami ucapkan selamat tinggal kepada aroma-aroma buku yang telah memanjakan kami seharian. Saya menemaninya menyusuri Taman Proklamasi, trotoar-trotoar sempit, halte-halte kumuh, pijar-pijar malam yang dingin, sampai ke depan Metropole. Ia hendak dijemput di sana.

Kemudian ia menanyakan sebuah basa-basi kepada saya, “Lo gimana pulangnya?”

Sontak saya menjawab, “Jalan kaki.”

“Lah jauh amat? Lama dong sampenya?”

Dari sini percakapan dihentikan oleh klakson mobil yang kemudian membawa teman saya pulang ke rumahnya, meninggalkan sebuah pertanyaan menggantung di kepala: lantas apakah ada yang salah jika itu memakan waktu? Dewasa ini, kecepatan dijadikan tolok ukur sejati, tuhan mahamutlak, dalam seluruh sendi kultur dan peradaban umat manusia kebanyakan. Semakin cepat, semakin baik. Semakin lesat, semakin hebat. Kelambanan adalah kegagalan. Kita begitu terfokus, tetapi lalai atas apa-apa yang mampu diperoleh dalam pergerakan yang lambat. Apakah betul dikte kita atas waktu agar semakin pendek adalah langkah yang tepat?

Revolusi Industri memperkenalkan tuhan ini kepada dunia: efektivitas, efisiensi, kemudahan, kecepatan, ketepatan. Pertama kali menjamur di Britania Raya, tuhan kecil ini kemudian menyebar menggerogoti semesta raya dan mendikte paradigma kita sebagai makhluk yang begitu mudah tergila-gila oleh hal-hal baru. Revolusi ini begitu mudah menjadi bagian penting dalam runutan sejarah oleh karena kebermanfaatannya yang luar biasa meringankan pekerjaan manusia, bahkan merajai, secara praktikal, seluruh aspek kehidupan kita: pertanian, manufaktur, transportasi, pertambangan, teknologi, dan lain-lain. Mesin uap telah membawa peradaban kita ke suatu satuan kecepatan yang berbeda, yang lebih tinggi lagi, hanya dengan satu kali jentikan jari.

Namun, sebuah kultur selalu menemui kontranya. Bukankah alamiah apabila manusia merindukan esensi, makna, afeksi, dan emosi? Bukankah alamiah apabila dalam raga yang ditempa untuk bekerja lebih dan lebih keras lagi, jiwa manusia menjadi dahaga? Manusia merindukan proses. Manusia rindu menikmati dirinya dan kembali berkenalan dengan waktu. Unsur-unsur ini hanya mampu kita peroleh dengan perlahan-lahan sembari berjalan beriringan – bukan kejar-kejaran dengan tempo gerak mesin, karena manusia bukan mesin; manusia bukan robot (lihat Sketsa Robot). Carlo Petrini yang menyadari hal ini melakukan sebuah protes dan perlawanan gagasan di Roma (1986); lahirlah organisasi Slow Food, yang kemudian berkembang menjadi gerakan besar bernama Slow Movement.

Slow Movement adalah sebuah revolusi kontrakultur yang berusaha untuk mendeklamasikan sebuah filosofi kelambanan, di mana setiap inci gerakan yang kita buat hendaknya sesuai dengan kebutuhan. Hidup selesat siput dan menikmati setiap detik kehidupan kita ketimbang menghitung-hitung dan mengkhawatirkannya. Esensi dari pergerakan dan filosofi yang dikembangkan oleh Carl Honoré dalam bukunya In Praise of Slowness Challenging the Cult of Speed adalah mengutamakan kualitas di atas kuantitas.

“Anything worth doing is worth doing slowly,” Mae West pernah berucap.

Slow Movement memberikan kita kesempatan untuk mereguh kepuasan. Tanpa keperlahanan, kita tidak akan mampu menyadari sepinya Taman Proklamasi, ngerinya trotoar-trotoar sempit, tulisan-tulisan “XX pernah di sini” yang ditorehkan remaja-remaja kehilangan arah di halte-halte kumuh, pijar-pijar malam yang dingin dan setengah nyala setengah redup, serta apa-apa yang luput dari penglihatan dan memori saya kala itu. Slow movement memberikan kita kesempatan untuk memperhatikan detail-detail kecil yang manis sekaligus menggelitik.

Kesenian, bagi saya, adalah aspek penting yang bertubuhkan Slow Movement. Kesenian memercayai sebuah relung yang begitu lapang dan panjang untuk dijelajahi dalam jiwa manusia; tidak ada yang instan dalam kesenian. Proses adalah jantung kesenian. Di dalamnya terdapat semangat perlawanan, keresahan, emosi, penyembuhan, cinta, dan keikhlasan. Begitu pula dalam seni teater, cabang seni yang memberdayakan seluruh kemanusiaan suatu entitas – bahkan kini sudah dapat kita temukan Slow Theatre.

Dalam berteater, kita akan ratusan kali dibuat terluka. Ratusan kali dipaksa berempati dan berkelindan dengan peran yang kita mainkan. Ratusan kali pula kita akan disembuhkan. Di atas sayatan luka kita akan ditaburi garam laut yang segar. Kita akan dipaksa melihat realita, berpikir, dan merasakan, kemudian baru benar-benar menjadi pemain setelah puluhan tahun melalang-buana di panggung ngilu. Setelah kita paham dan menjadi benar-benar ikhlas. Untuk itu kita perlu berproses – proses yang panjang dan menyakitkan, tetapi sekali lagi, apa-apa yang layak kita jalani adalah apa-apa yang layak kita jalani dalam tempo selesat siput.

Dengan berteater, kita akan mampu menghayati nilai-nilai yang dibawa oleh Slow Movement.

Dengan berteater, kita akan mampu memberontak dari mesin-mesin uap dan paradigma yang menghantui kita tiap kali kita terbangun dari lelap malam.

Dan dengan berteater, kita akan mampu memanusiakan diri dalam tempo selesat siput. (ad)

=====================================

ad
31/3/2014

=====================================

Sumber Referensi:

Redana, Bre (2013). Percepatan, Catatan Minggu Kompas, 26 Mei 2013. Jakarta: Kompas.
http://www.history.com/topics/industrial-revolution
http://www.carlhonore.com/books/in-praise-of-slowness/

Claudia
Claudia Contributor

Mahasiswi Program Studi Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini resmi bergabung ke dalam Teater Sastra UI sejak 2014. Alumni aktif PSUMB, anggota IKMI UI aktif, dan Staff Departemen Seni Budaya BEM FIB UI. Keseharian gadis yang doyan menulis ini selalu dipenuhi canda tawa.

Leave a Reply