Skip to content

Mengenal 4 Elemen Artikulasi

Latihan Suara

Duduklah bersama kawan-kawanmu. Minta setiap orang menciptakan satu kalimat, dan mengucapkan satu kalimat tersebut dengan 10 cara yang berbeda-beda. Lihat ada berapa orang yang berhasil mengucapkannya.

Sebenarnya ada berapa banyak cara mengucapkan sebuah kalimat? Ada berapa maknanya?

Jawabannya tidak terbatas. Namun bagaimana cara kita memformulasikan elemen-elemen dalam pengucapan (artikulasi) sebuah kalimat? I. Yudhi Soenarto mengajarkan, ada empat elemen artikulasi:

1. Volume (Kekuatan vokal )

Kekuatan vokal adalah seberapa besar kekuatan seorang aktor dalam menguasai ruangan (penonton), sehingga suara tidak hanya terdengar oleh penonton yang duduk di bagian depan tapi juga sampai ke bagian paling belakang. Volume sangat dipengaruhi oleh pernafasan perut (diafragma).

Semakin kuat otot perut dalan memompa udara, semakin keras juga kekuatan volume.

2. Tekanan (intonasi)

Tekanan diterapkan pada satu bagian kata untuk menetapkan pentingnya sebuah kata atau permaknaannya. Misalnya dalam kata “Anjing”, perbedaan tekanan di suku kata “an” atau suku kata “Jing” akan membedakan maknanya.

3. Tempo dan Pause (durasi)

Tempo adalah durasi kita mengucapkan sebuah kata atau kalimat. Pemaknaanya juga bisa berbeda-beda. Sebagai contoh jika kita memakai kalimat, “Saya persembahkan bunga.”

Jika kita mengucapkan ini dengan tempo yang cepat, maka tidak ada unsur ‘dramatis’ yang disampaikan. Namun, jika kita panjangkan tempo di salah satu katanya, misalnya “Bunga”, maka yang terjadi adalah sebuah dramatisasi, “Saya persembahkan (pause) Buuuuuuunggaaaaaaaa.”

Dalam beberapa kasus, penggunaan tempo yang salah bisa menyebabkan efek yang salah juga. Tempo terlalu cepat bisa membuat penonton gagal menangkap makna, dan tempo yang terlalu lambat (dan terlalu banyak pause) bisa membuat penonton kebosanan.

4. Nada

Nada adalah tinggi rendahnya suara. Seperti do-re-mi-fa-sol-la-si-do, nada digunakan dalam memberikan makna. Di sini kita bisa melihat bahwa nada tidak hanya dipakai untuk bernyanyi tapi juga untuk bicara.

Nada tinggi biasanya dipakai untuk ekspresi tegang dan kemarahan, sedang nada rendah untuk ekspresi ketenangan atau dingin.

Dengan kata lain, nada bisa sangat berguna untuk membuat karakter. Selain itu nada juga bisa dipakai untuk memuat dialek. Contoh mudah dapat dilihat pada etnis-etnis berbeda yang berbahasa Indonesia atau Inggris namun masih terasa pengaruh bahasa ibunya.

*****

Dari ke empat elemen artikulasi tersebut, kamu bisa bayangkan sendiri. Seandainya setiap elemen bisa memberikanmu 1000 cara bicara, artinya empat elemen itu bisa memberikanmu sejuta cara bicara untuk satu kalimat.

Ketika pembicaraan disertai gerak, maka modenya juga akan terus bertambah. Kamu bisa terus bereksplorasi untuk menentukan makna kata yang ingin kamu sampaikan dengan cara yang paling efektif.

 

M. Iqbal Fahreza
M. Iqbal Fahreza Contributor

Pria berbadan kekar yang akrab disapa 'dudung' ini adalah salah satu anggota Teater Sastra UI. Masuk Universitas Pancasila pada 2009 dan menjadi anggota Teater Sastra UI pada 2010. Dia telah bermain pada beberapa pementasan: Balada Si Miskin (2011), Lenong Kaki Lima (2011), Baju Baru Sang Raja (2011), Lenong Penggali Kubur (2012), Matinya Pedagang Perempuan (2011), dan Musuh Masyarakat (2012).

Leave a Reply