Skip to content

Memoar Sandy Melviar

Bagong 2

Sandy Melviar Surakusumah, atau yang biasa kami panggil dengan nama Mas Bagong, bukanlah sosok yang saya ketahui seluruh sejarah hidupnya. Bukan juga sosok yang saya kenal jauh ketika ia berkuliah di Fakultas Sastra dulu. Mas Bagong adalah sosok yang baru saya kenal sejak berkuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya 7 tahun silam.

Mas Bagong aslinya memang mahasiswa Sastra Jawa angkatan 1997, namun perbedaan generasi ini tidak mengecilkan hubungan persahabatan saya dengannya hingga sekarang. Persahabatan yang seru ini dimulai awalnya ketika saya (tahun 2009) mulai aktif di Teater Sastra UI, melalui kantor MPK Seni yang berseberangan dengan ruangan tempat kami berteater.

Ruangan kami yang berdekatan membuat saya kenal dan dekat dengan Mas bagong, Mas mulyadi, dan lain-lain. Ia adalah seorang dosen mata kuliah komik yang memiliki kemampuan desain visual dan ilustrasi. Dia sering membantu teater kami ketika ada acara atau pementasan.

Pertemanan saya semakin akrab ketika muncul gerakan di kampus seperti save UI yang sebelumnya bernama Gerakan UI bersih pada September 2011. Pada saat itu saya mengenal Sandy Melviar sebagai seorang aktivis yang tidak ingin disebut dirinya sebagai mantan aktivis.

Karena itulah ia terus membantu mencari ide, dan menyumbangkan konsep-konsep menarik bagi teman-teman mahasiswa. Kontribusinya pada saat itu saya artikan bukan sebagai patron yang menyetir atau mendikte soal pergerakan, tapi lebih sebagai teman pergerakan yang lebih dulu punya pengalaman dan skill dalam propaganda visual.

Bagong

Pasca Save UI, walaupun ada beberapa perubahan yang terwujudkan, di sisi lain kami sadar penuh kalau gerakan ini sejak awal memang gerakan reaksioner yang tidak punya landasan ideologis yang kuat. Akhirnya kami mengevaluasi cara-cara dan strategi ke depan agar hal ini tidak terulang.

Mas Bagong, dan kami terus berfikir bagaimana tetap menjaga semangat yang sudah ada. Dari ide itulah sebenarnya lahir “Ngamen Sastra” yang awalnya kita niatkan sebagai pendekatan kultural (bukan langsung kaderisasi politik) bagi mahasiswa dan anak muda. Setelah itu munculah acara-acara yang berhasil melibatkan mahasiswa-mahasiswi dari beragam komunitas dan beragam  hobi seperti ‘Ngamen Kansas’, ‘Ngamen Rock Carnival’, dan ‘Ngamen Qurban’.

Kamis, 3 September 2015. Masuk pesan dalam ponsel saya, yang menyatakan bahwa Sandy Melviar sudah tidak ada. Sebenarnya waktu itu sulit sekali bagi saya untuk percaya. “Belum lama ini kami masih menegur sapa, masih berdiskusi kok lewat internet, masa iya.” Itu yang ada di benak saya. Kemudian saya mencari tahu kesana sini, ternyata benar, teman kami ini telah meninggalkan dunia lebih dulu dari kami.

Menurut kabar keluarga sejak jam 5 pagi, ia sudah merasa sesak namun ia pikir itu hanya masuk angin biasa. Lalu sekitar jam 11 ia pindah dari kediaman ibunya ke rumah kakanya. Lalu dirumah kakaknya, sekitar jam setengah dua belas, teman kami mengalami serangan jantung. Cukup 30 menit baginya untuk menghembuskan nafas terakhir. Semua terjadi secara tiba-tiba. Kami semua kaget mengetahuinya.

Selepas kepergiannya sekarang, apa yang saya rasakan melekat dalam diri saya. Terlepas dari semua atribut tentang dirinya, perbedaan pendapat antara saya dengannya, dan kerja bareng kami, saya menemukan bagong sebagai sosok pengabdi.

Sosoknya sejak awal kuliah di tahun 1997 lalu terus terlibat dengan berbagai peristiwa dan acara baik di dalam luar kampusya, dan terbukti hingga tahun ini, 2015, tetap mengajar di kampus menurut saya adalah suatu kesetiaan dirinya kepada kampus tempat pengabdiannya. Selain masih mengajar ia juga sering membantu kegiatan mahasiswa, membangun instalasi, kerja kreatif, memberikan gagasan dan pertolongan kepada setiap tangan yang membutuhkannya.

Walaupun kadang saya mendengar komentar senior dan teman kuliah seusianya, “Bagong itu dari dulu di kampus. Ga pernah kemana-mana” lu ngapain terus di kampus? Emang lu dapat apaan dari kampus” “lu mending ikut kerja sama gw, duitnya lebih dari apa yang kampus bisa kasih ke elu” “lu serius amat sih buat rapat iluni/gerakan doang di kampus”, lalu ia hanya membalas dengan senyuman khas miliknya – dalam hati saya berkata, walaupun perkataan orang-orang itu ada benernya, tapi sampai sekarang saya belum pernah lihat ada alumni yang begitu setia, konsisten, dan serius pada acara/gerakan di kampus seperti dirinya. Sekarang benar terasa kalau saya telah kehilangan sosok itu, tidak tahu kapan lagi akan ada orang yang bisa menggantikan sosok itu.

Selamat jalan kawan, semoga kau damai di sisi-Nya. Karyamu akan terus abadi…

Yoi, Manteps tuh!.. lanjutinn” – Sandy Melviar “Bagong”

Fathurrahman Arroisi
Fathurrahman Arroisi Contributor

Penulis adalah pekerja media yang sedang menyelesaikan tesis magisternya tentang relasi negara, poskolonialisme, dan seni pertunjukan. Aktif di Teater Sastra UI sejak tahun 2009, Alumni Program Studi Inggris Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI ini menaruh perhatian dalam kajian budaya dan masyarakat kontemporer.

Leave a Reply