Skip to content

MELATIH LOGIKA DAN RASA: WAWANCARA PANAS!

Tragedi Macbeth, Graha Bhakti Budaya, TIM, 2009

Apa kamu kira ditanya-tanyai sembari dipandang belasan pasang mata itu perkara gampang?

Satu lawan satu saja kerap bikin gelagapan, bagaimana kalau keroyokan?

Bah!

Ketika latihan ini dimulai pada pertemuan pertama workshop Teater Sastra UI tanggal 3 September 2013 lalu, mulanya nyaris tak ada tekanan. Kami-kami yang dipilih ini (tiga orang saja) cuma disuruh duduk di depan, jadi pajangan, dan jawab pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan acak, dari peserta workshop sekalian. Tapi kemudian ada satu permintaan dari pelatih:

Jawablah SEMUA pertanyaan, kamu BOLEH BOHONG tapi jangan sampai ketahuan.

Lalu wawancara panas dimulai.

Manakala wawancara biasa itu perkara meyakinkan penanya, maka wawancara panas ini sungguhlah sialan. Yang kudu diyakinkan bukan cuma satu orang, tapi seumat peserta—yang dikenal pun belum semuanya. Dan disuruh ngibul pula. Jangankan bikin penanya percaya, yang ditanya saja belum tentu yakin njawabnya.

Ah, tapi memang di situlah poinnya. Sebab proses teater juga begitu adanya. Benar, tak jauh beda.

Bahwa kita sendiri pertama-tama harus percaya, sebelum muluk pingin bikin penonton tergugah hatinya. Tak boleh ada rasa terpaksa. Karena meski berusaha ditutupi dari muka, penonton akan berasa dan kita jadinya (ketahuan) pura-pura.

Di titik ini saya mulai salut sama yang mengonsep workshop ‘wawancara panas’ ini. Bukan cuma sukses jadi miniatur proses emosi aktor yang berteater, wawancara panas ini sukses membuat yang ditanya mencicip sendiri rasanya. Apalagi ketika pertanyaannya mulai nganeh-nganeh. Meski entah lantaran yang nanya memang iseng dari sananya, atau sengaja mendidik niatnya, pertanyaan nganeh-nganeh sukses bikin kami bohong sekalian. Pertanyaan seperti, “Apa kamu masih perawan?” tak pelak membuat resah beberapa peserta perempuan. Karena, ‘kan malu kalau jawabnya betul-betulan. Ada motif pribadi untuk tidak ketahuan, apalagi di depan orang-orang yang belum kami kenal.

Wawancara panas ini juga punya tuntutan yang membuatnya makin mirip dengan permainan teater sungguhan. Tuntutan itu, tak lain tak bukan, adalah harus menarik perhatian. Memang, karena anjuran dan pemosisian, otomatis pandangan mata seisi ruangan tertuju ke depan. Namun dalam sekejap, kalau yang di depan tak menarik nian, seisi ruangan akan hilang perhatian.

Karena penanya belum tentu tertarik mengenal yang di depan, wajar saja jika untuk bertanya pun tidak bernapsu rasanya. Terlihat bahwa mulanya, sedikit di antara peserta workshop yang antusias bertanya.

Kecuali, yang ditanya sukses menimbulkan suatu kesan. Entah bawaan (cantik, misalnya), punya bakat dan karisma, asli ataupun buatan, yang muncul kalau kita konsisten menampilkan suatu peran.

Persis seperti keaktoran.

Mudah, kan, bohong dengan meyakinkan kalau kerangkanya sudah ada? Sebuah peran.

Bohong tak lagi terasa bohong. Tak lagi diiringi degupan jantung tak keruan, atau perasaan takut ketahuan. Kalau kata rekan saya lainnya, yang juga aktor kawakan: Kebenaran itu tak selalu fakta,

Ia lebih pada apa yang kamu percaya. Seperti dalam keaktoran, mereka yang di depan harus mencipta kebenaran sendiri. Yang mereka percaya, dan audiens (akhirnya) juga percaya.

Namun kalau kita tidak percaya pada kebohongan kita, niscaya penonton bisa protes.

Karena penonton tidak bodoh.

Klara Virencia
Klara Virencia Contributor

Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI ini bergabung secara resmi di Teater Sastra UI pada 2012. Ia memulai aktingnya di Teater Sastra UI sebagai tokoh Penerjemah agen rahasia CIA Bruce Wong di dalam Baju Baru Sang Raja (2011). Selain itu, Viren juga aktif menjadi staff Art and Cultural Department BEM FISIP UI dan menulis di berbagai website, salah satunya Cinema Poetica.

Leave a Reply