Skip to content

Masa Depan Kesenian Indonesia

143_cahaya_dari_papua_-_02

“Oh, kalian yang dari Teater Sastra ya? Kok masuknya gak lewat depan sih? Tunggu dulu sebentar, ya, duduk saja dulu,” pamit wanita itu.

Malu-malu kami – saya dan Adi – duduk di ruang yang ajaib ini. Hawa sejuk merasuk, bersama dengan bantalan kursi yang empuk memanjakan kami, tetapi tak juga saya menemukan posisi duduk yang nyaman.

Belum selesai saya melakukan ritual planga-plongo manakala saya merasa kagum, Adi telah terlebih dulu bersorak menyusuri fasilitas-fasilitas di ruang ini. Matanya ia biarkan bebas berbinar menyaksikan keajaiban yang ada, sedang saya masih belum puas terpaku di tempat saya duduk.

Masuk ke Galeri Indonesia Kaya (GIK) asuhan Bakti Budaya Djarum Foundation seperti menyaksikan masa depan kesenian Indonesia. Berlokasi di West Mall lantai 8 Grand Indonesia, GIK bak permata kecil di tengah jantung negeri. Seperti tertera di dalam website-nya, www.indonesiakaya.com, ruang edutainment publik ini berbasiskan tekonologi digital dan dapat dinikmati secara cuma-cuma sehingga kami yang biasa merokok dan bermain dengan kucing di pinggir jalan depan Taman Ismail Marzuki (TIM) merasa asing – dan terasing – dengan nuansa highclass dan hightech yang memenuhi ruang ini. Bagi kami, ini ajaib!

Selagi Adi tengah asyik dengan tablet-tablet di Selasar Santai dan saya dengan congklak virtual di Ceria Anak Indonesia, Rieka kembali. “Maaf, ya, jadi lama menunggu.” Kami hanya nyengir – efek kagum yang berlebih.

“Jadi gimana nih Teater Sastra? Bisa tampil kan? Tampil A Midsummer Night’s Dream lagi juga bisa, asal sesuai tema kami. Ajak juga teman-teman kalian yang butuh wadah untuk tampil, ya!”

“Wah, kalau Midsummer rasanya susah mbak.. Oh, memang bisa mbak pada tampil di sini?”

“Tentu,” jawab alumni FIB UI jurusan Sastra Belanda itu santai, “Justru, kami memang mencari anak-anak muda yang perlu tempat untuk berkesenian. Kan sayang kalau latihan capek-capek gak tahu mau main di mana.”

Lagi-lagi kami hanya mengangguk-angguk takjub. Terlalu mewah rasanya mendapatkan kemudahan yang demikian untuk berkesenian setelah terbiasa dengan bentukan paradigma bahwa kesenian alien sifatnya di tengah masyarakat Indonesia.

Bagi GIK, kini sudah saatnya diberdayakan regenerasi di kalangan para pelaku seni. Sebagai sarana hiburan dan edukasi, GIK memosisikan diri sebagai wadah pertemuan yang mesra antara para pelaku seni senior dengan junior-juniornya.

Beralih ke Auditorium, ruang pementasan GIK, saya kembali planga-plongo. Kapasitas GIK hanya mencapai 150 orang, dan panggungnya terhitung kecil dan sempit.

Namun, panggung ini dilengkapi dengan 3 layar dan proyektor dengan visual yang jernih serta tata lampu LED dan sound system yang memadai dengan kualitas tinggi. Tak bisa tidak, otak saya langsung berputar – sembari masih planga-plongo – melakukan rekaan dan pembayangan apabila Teater Sastra menggelar pementasan di panggung ini. Tak akan banyak properti yang dapat dihadirkan di sini, begitu pula pemain yang mungkin bertemu di panggung. Barangkali, pementasan yang potensial untuk dimainkan adalah lenong.

Rekaan sekadar rekaan; tak ada guna apabila tidak benar menyaksikan sebuah pertunjukan digelar langsung di sana. Seekor naga merah muncul, memeluk panggung dan segenap Auditorium dengan bentang sayapnya dan tajam matanya pada tanggal 27 Desember 2014.

Membawakan alur cerita yang sederhana, naga budak bangsa barat ini mati dibunuh Biwar yang diperankan oleh Rangga Riantiarno dan segenap warga desa Papua lainnya yang kebanyakan adalah perempuan. Karena teror yang ia bawa, Sang Naga Jahat yang diperankan oleh Bayu Dharmawan Saleh dibunuh demi memerdekakan rakyat Papua.

Dalam pementasan Cahaya dari Papua, Teater Koma tidak memukau penonton lewat keaktoran yang luar biasa matang atau pun alur cerita yang memaksa penontonnya lupa bernapas ketika menyaksikannya. Lewat tangan N. Riantiarno, Papua bersinar lewat pemanfaatan panggung yang maksimal. Kostum dan tata rias Teater Koma tak perlu dipertanyakan lagi, megah dan total. Sentuhan etnik khas Papua terekam jelas di sana, begitu pula dengan kemegahan Sang Naga Jahat – kostum naga tampak terbuat dari busa ati.

Dua pemusik yang hadir dengan cerdas mampu memenuhi Auditorium dengan sentuhan musik Papua yang kaya akan perkusi dan seruling. Bekal mereka adalah seperangkat perkusi sederhana dan sebuah laptop – ya, sound system yang menawan dari GIK dipergunakan dengan baik oleh Teater Koma untuk mengakali terbatasnya spasi bagi pemusik dan alatnya untuk masuk.

Tidak hanya itu, tiga layar dan proyektor canggih yang disediakan juga digunakan sebagai latar dan penuansaan visual untuk menggantikan fungsi sebagai pembawa nuansa di Auditorium. Layar-layar ini jelas menangkap perhatian penonton dengan latar kekayaan Papua yang Teater Koma suguhkan.

Dan terakhir, yang menonjol dari pementasan ini adalah hiburan tarian dan nyanyian kolosal yang dibawakan beberapa kali oleh warga desa Papua. Secara keseluruhan, Cahaya dari Papua adalah pementasan yang modern, sesuai dengan pasar GIK.

Konsep layar dan proyektor yang digunakan oleh Teater Koma langsung saja mengingatkan saya dengan pementasan Multimonolog Selingkuh yang digelar oleh Teater Sastra pada tahun 2013 silam. Dalam Multimonolog Selingkuh yang digelar di Graha Bakti Budaya, TIM, I Yudhi Soenarto bereksperimen untuk memberikan stiumlus bagi imajinasi penonton dengan menggunakan layar, proyektor, dan bahasa.

Oleh M. Kevin Julio
Oleh M. Kevin Julio

Berbeda dengan Cahaya dari Papua, pementasan ini minim koreografi; tujuh pemain duduk di kursi masing-masing dan bercerita perihal pengalaman mereka yang saling berkaitan dengan perselingkuhan antara Ida yang diperankan oleh Neti dengan Hendrik Panggabean yang diperankan oleh Yoga Mohammad.

Selain itu, alur cerita menjadi kekuatan utama dari pementasan ini – kompleks dan dikemas dengan menggunakan tujuh sudut pandang yang berbeda. Multimonolog Selingkuh memukau penonton dalam labirin imajinasi lewat pemain-pemain yang piawai.

Namun, konsep layar dan proyektor yang digunakan dua teater ini menjembatani satu pemikiran dan efek yang sama bagi penontonnya: penonton dibawa ke jendela imajinasi yang lebih luas, melampaui panggung yang ruangnya memiliki batas. Konsep ini mampu mengakali fungsi properti sebagai pengisi tata panggung secara efektif dan efisien.

Dari segi penonton, konsep ini jelas lebih populer oleh karena modernitas teknologi digital yang digunakan. Di atas semua itu, konsep layar dan proyektor membawa budaya teater, terutama di Indonesia, menuju ke pangsa yang lebih luas, modern, populer, dan diterima oleh masyarakat. Konsep ini ditawarkan oleh panggung GIK.

“Oke mbak, saya omongin dulu sama teman-teman yang lain. Untuk konsep budayanya, dari Teater Sastra sih bisanya lenong, tapi detailnya nanti saya kabari lagi.”

Senja mulai tampak, tak lama lagi petang akan datang. Kami harus bergegas ke stasiun Sudirman agar kebagian kereta. Sebelum lewat, saya kembali menoleh dengan kagum ke arah GIK. “Seru juga lenong pake layar-layaran,” gumamku.

Hari itu kami baru saja berkunjung ke masa depan kesenian Indonesia.

Claudia
Claudia Contributor

Mahasiswi Program Studi Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini resmi bergabung ke dalam Teater Sastra UI sejak 2014. Alumni aktif PSUMB, anggota IKMI UI aktif, dan Staff Departemen Seni Budaya BEM FIB UI. Keseharian gadis yang doyan menulis ini selalu dipenuhi canda tawa.

Leave a Reply