Skip to content

KARMA: Katalis Bagi Katarsis

Karma_11

Oleh: Stefano Zora Parameswara (FT UI 2014)

Katarsis yang sangat kondusif telah dicapai dalam pementasan “Karma” oleh Teater Sastra Universitas Indonesia pada Selasa, 5 Mei 2015.

Kisah Karma merupakan kisah yang unik, tidak terduga dari judulnya. Sebagai judul yang memiliki etimologi bernuansa Sanskrit, ‘Karma’ merupakan salah satu kepercayaan Hindu-Buddha yang menyatakan bagaimana seseorang akan menerima ganjaran dari setiap perbuatan moral yang diperbuatnya.

Mulanya, terpikirkan bahwa kisah yang dipentaskan bertema fantasi. Namun, ternyata tidak. Makna karma ini tercermin dalam kisah hidup Wagimin dan istrinya, Anita, dan terungkap secara perlahan seiring cerita berjalan.

Kisah Karma menceritakan tentang keluarga Wagimin yang secara ekonomi berjuang untuk memenuhi kebutuhan. Namun, pengeluaran finansial tidak dapat dibendung karena Aini sang anak kedua yang sedang sakit kanker stadium 2 membutuhkan perawatan. Sementara, Dicky, sang anak pertama, seiring diejek dan memiliki masalah bullying di sekolahnya.

Karma_17

Menurut pengamat, ada keindahan tersendiri dalam cara sang penulis naskah mempresentasikan berbagai konflik kecil yang paralel namun saling berakumulasi dalam rumah tangga Wagimin.

Dalam cara Mpok Sani, seorang tetangga yang intrusif, datang meminta uang arisan dan mewarnai cerita dengan membawa kabar tentang seorang dukung penyembuh di atas gunung; Dicky meminta uang study tour untuk mengelakkan dirinya dari stigma siswa lainnya; dan tukang ojek teman Wagimin yang terus datang meminjam motor dan merepotkan Wagimin.

Konflik cerita menjadi semakin kompleks ketika Koko, saudara Anita, diintroduksikan ke dalam kisah. Nampaknya Koko merasa Anita tidak mendapat nasib yang sepadan dengan yang seharusnya ia bisa dapatkan. Terciptalah tensi antara Wagimin dengan Koko. Wagimin merasakan bagaimana Koko tidak menyukai dirinya.

Kulminasi klimaks dipicu oleh introduksi Soleh, seorang pengusaha mantan pacar Anita. Soleh tadinya merupakan anak buah Wagimin, namun sekarang status sosioekonomi keduanya berkebalikan. Tampak bahwa Wagimin merasa Soleh ingin menghilangkan stabilitas rumah tangganya dan merebut Anita daripadanya.

Karma_1

 

Namun uniknya, konflik ini dilandasi tawaran Soleh untuk menyembuhkan Aini. Saat Soleh menyentuh pembicaraan tentang masa lalu Wagimin dan Anita, terjadilah pertengkaran yang menjadi awal dari klimaks yang sangat menegangkan.

Pengamat mengapresiasi konflik multilevel yang dibuat dalam naskah. Dua konflik utama, masa lalu Anita bersama Wagimin & Soleh dan penyakit kanker Aini, dibuat lebih kompleks dengan adanya konflik interpersonal Wagimin dengan Koko, Dicky yang terus terkena bully di mana pihak bully  merupakan anak dari seorang pengusaha Haji Lolong, serta “bumbu-bumbu” lainnya yang sangat intrusif seperti tukang ojek rekan sejawat Wagimin dan Mpok Sani.

Diapresiasi pula element of surprise dalam cerita, di mana solusi konflik utama (penyakit kanker Aini dan pembiayaannya) datang dari salah satu konflik sampingan (Haji Lolong). Terlihat bahwa naskah mengerucutkan konflik multilevel menjadi 2 kutub ini pada akhirnya, dengan Anita memberikan ultimatum akan terus bersama Wagimin jika dan hanya jika Wagimin dapat menjanjikan kesembuhan Aini.

Cerita diakhiri dengan solusi yang menyelesaikan konflik utama secara absolut (pembiayaan oleh Haji Lolong, yang juga memutuskan ketergantungan terhadap Soleh).

Apresiasi yang sangat tinggi juga disampaikan untuk para pemeran. Ekspresi yang luar biasa telah menjadi katalis bagi katarsis yang tampaknya menyentuh mayoritas audiens, melihat dari ekspresi audiens selagi pertunjukkan. Apresiasi juga diberikan bagi costume designer dan make up dari para pemeran, yang memungkinkan sesama mahasiswa tampil dengan penampakan anak kecil, remaja, maupun orang dewasa, dengan watak-watak berbeda.

Secara keseluruhan, kisah Karma merupakan pertunjukan yang menggerakkan emosi, mengandung makna, dan dibawakan dengan luar biasa.

Teater Sastra UI
Teater Sastra UI Administrator

Leave a Reply