Skip to content

KARMA: Dari Jam Terbang Hingga Permasalahan Teknis

Karma_22

Oleh: Respati Suta Wibawa

Selasa, 5 Mei 2015, saya menyaksikan sebuah pementasan teater yang digelar di Aula Gedung 9 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Pementasan yang saya saksikan berjudul “Karma”, karya dari I. Yudhi Soenarto yang juga merupakan dosen di kelas MPK Seni Teater, kelas MPK Seni yang saya pilih.

Pementasan “Karma” bercerita tentang sebuah keluarga kecil yang didera begitu banyak masalah, terutama penyakit kanker darah yang diderita Aini, anak dari Wagimin dan Anita, pasangan suami-istri yang didera banyak masalah dalam cerita ini.

Teater ini memberikan gambaran kepada semua penonton yang hadir mengenai bagaimana cara sebuah keluarga mencari jalan keluar dari segala permasalahan yang ada, baik itu dengan cara singkat ataupun dengan cara yang begitu sulit sekalipun.

Walaupun cerita dan pesan yang terkandung dalam cerita tersebut cukup menarik, saya tetap merasa masih terdapat kekurangan dalam pementasan tersebut.

Karma_7

 

Setidaknya ada 3 aspek yang akan saya komentari , yakni dari aspek pemeranan tokoh atau acting tokoh, alur cerita, dan aspek-aspek pendukung lain salah satunya audio system.

Untuk aspek yang pertama, yakni mengenai acting dari para pemain dalam cerita, saya merasa masih ada kekurangan dalam hal penjiwaan karakter.

Hal itu terdapat pada pemeran tokoh Wagimin yang saya lihat tidak konsisten dengan karakter tokoh yang dimainkan.

Ketika Wagimin berbicara dengan keluarganya, Wagimin selalu menggunakan logat Jawa yang begitu kental. Akan tetapi, ketika Wagimin berbincang dengan tokoh lain yang bukan keluarga intinya, Wagimin berbicara dengan menggunakan logat yang terdengar seperti logat orang Jakarta, seperti saat Wagimin berbincang dengan tokoh Soleh.

Selanjutnya, yaitu aspek kedua mengenai alur cerita. Secara garis besar alur yang coba dimainkan oleh para pemain teater sudah cukup baik. Namun ada satu hal yang membuat saya bingung mengenai jalan cerita “Karma” ini, yakni ketika sang Bapak, Wagimin digebuki oleh preman-preman yang katanya merupakan preman bayaran “Haji Lulung”.

Dalam pementasan itu, Wagimin sempat bercerita bahwa Haji Lulung menolong dirinya untuk mendanai pengobatan Aini. Namun setelah itu saya tidak merasakan sebuah kepastian dari adanya pertolongan tersebut pada akhir cerita. Sehingga cerita tersebut terkesan “menggantung” atau seakan-akan belum jelas akhirnya.

Entah mungkin karena saya kurang mendengar saat sang Istri, Anita berbicara dengan Aini di akhir cerita atau bagaimana, namun yang jelas saya kurang mendapatkan feel bahwa ada titik terang dari permasalahan yang dihadapi oleh keluarga Wagimin dalam cerita tersebut.

Karma_14

Yang terakhir, yakni mengenai aspek pendukung pementasan teater. Secara keseluruhan, semua aspek pendukung pementasan teater sudah sangat baik. Setting tempat, pencahayaan, musik, dan proses pergantian scene cerita sudah sangat baik.

Namun kembali lagi ada satu hal yang sempat mengejutkan penonton, yakni kesalahan teknis berupa audio system yang kurang baik. Terbukti ketika Anita berbincang dengan seorang wanita dalam sebuah scene, tiba-tiba dari speaker terdengar suara yang cukup mengagetkan.

Untungnya, pemain langsung berimprovisasi dengan menganggap suara tersebut sebagai suara peitr.

Di luar semua hal yang saya tulis di atas, saya merasa bahwa secara keseluruhan pementasan sudah cukup baik untuk ukuran mahasiswa. Saya mengerti bahwa para pemain memang bukan seorang profesional dan masih butuh banyak jam terbang untuk dapat mementaskan sebuah teater yang lebih lagi.

Selain itu, saya juga menyadari bahwa saya hanya sebagai orang awam yang sebelumnya yang juga belum tahu banyak mengenai pementasan teater. Sehingga semua komentar yang saya tulis di atas hanya berdasarkan apa yang saya lihat dan saya rasakan pada saat menonton pementasan teater tersebut.

Teater Sastra UI
Teater Sastra UI Administrator

Leave a Reply