Skip to content

Jarak yang Direka di Panggung Teater (2)

Bordil Inc. - -354

Tidak bisa tidak, kembali saya teringat pada kritikan para sepuh teater setiap mengingat kembali (Fragmen) Sekda yang disutradarai oleh Maharani Megananda, putri dari Bangkit Sanjaya, seniman.

Masih kenyang setelah menyantap hidangan padang di tengah perjalanan menuju Taman Ismail Marzuki (TIM), kembali saya disuguhkan kudapan yang akrab di lidah – gorengan, ubi, dan lemper – ditemani kopi hitam yang memanjakan seluruh pancaindera.

Gratis! Betul-betul para penonton kala itu dimanjakan oleh empunya pementasan, termasuk saya yang hitungannya sekadar penonton karena nyatanya tidak membantu apa pun dalam pementasan tersebut. Pementasan berjalan – tampak para penonton harus berdiri di belakang untuk ikut menonton pementasan serba gratis ini.

Berceritakan tentang seorang pemuda dan pelacur yang berkoar-koar tentang keadilan dan bermain ‘kalau’ dalam rangka Hari Kemerdekaan di kampung mereka, (Fragmen) Sekda memaparkan cerminan dari tingkah laku pejabat Indonesia selama enam puluh menit saja, sehingga naskah tersebut tidak dapat dipentaskan secara lengkap. Selesai pertunjukan, ini dia sesi kritik datang!

Tampak raut wajah kawan-kawan aktor dan aktris berubah, seakan mempersiapkan diri untuk kritikan para pembicara – ada di sana Sutarno dan Didi Boneng, para pelaku Teater Bawah Pohon, seniman yang bergabung memerangi Orde Baru – yang Yoga ‘Mbek’ Mohammad, aktor yang memainkan Sekda, bilang terkenal pedas.

“Spektakuler!”

“Inilah kebangkitan teater kampus!”

“Tiga tahun lagi kalian akan menyamai Teater Koma!”

“Kalau saya bilang, satu tahun lagi! Cukup satu tahun, maka kalian akan menyamai Teater Koma!”

Astaganaga, bahkan bagi saya, orang yang sekadar menyimak, campur aduk rasa datang menghujam – antara bingung dan takjub. Kritikan seberat tanggung jawab amanah seribu ton itu entah ditujukan sebagai pancingan, tantangan, atau semata-mata karena beliau-beliau ini telah jenuh untuk mengkritisi kelompok teater muda.

Pementasan (Fragmen) Sekda oleh Teater Paradoks FISIP dan Teater Agora KOMAFIL FIB UI yang mengisi acara Sembilanan TIM ini telah banyak diliput media, sebut saja Harian Bangkit, Liputan 6, dan Post Kota News. Namun, sebagai penikmat, saya tertarik merangkum dan sedikit mengulas tentang pementasan ini.

Berangkat dari Jarak yang Direka di Panggung Teater (1), Dagelan, salah satu Teater Rakyat yang merupakan bentuk dari (Fragmen) Sekda karya W. S. Rendra, adalah bentuk teater yang memiliki beberapa unsur, yakni berkonten nyanyi, lawak, dan tari, dapat dipentaskan di mana saja dengan bentuk arena terbuka, tidak memiliki naskah yang pakem, serta tidak memberikan jarak dengan penonton. Apakah (Fragmen) Sekda yang dibawakan selama enam puluh menit itu berhasil dipentaskan dalam bentuk sempurna sebuah Dagelan?

Pertama, Teater Rakyat macam Dagelan sejatinya tidak memiliki naskah. Akan tetapi, sejak seni kontemporer mulai merasuki Indonesia, para seniman mulai memiliki bentuk tulisan dari naskah drama, tidak terkecuali Sekda karya W. S. Rendra, sehingga kualitas alur dapat lebih terjaga dan dokumentasi perkembangan seni dapat terawat dengan baik.

Naskah Sekda telah sebelumnya dimainkan oleh Teater Bengkel pada tahun 1971 silam, sebuah drama yang penuh dengan kritik. Kritikan tersebut ditujukan kepada banyak pihak: masyarakat, pejabat, media, wartawan, bahkan kepada W. S. Rendra sendiri. Sebuah naskah drama kritik yang adil.

Dalam pembawaan ulang yang disutradarai oleh Nanda, pejabat, wartawan, dan rektorat mendapatkan porsi yang besar untuk dikritik, misalnya saja metode blusukan pejabat yang dilakukan sembari menjual pencitraan kepada media, wartawan yang bekerja sama dengan pejabat untuk mengabarkan berita bohong demi uang, dan rektorat sebagai agen pendidikan di perguruan tinggi yang melakukan korupsi.

Usaha yang cukup baik dari sutradara, akan tetapi Sutarno menyatakan bahwa sindiran harus lebih berani dan tepat sasaran, mengingat naskah asli dimaksudkan untuk habis-habisan mengkritik banyak pihak. Naskah juga seharusnya bisa lebih dikembangkan dan direlevansikan dengan keadaan di Indonesia ketika itu, baik dari segi pendekatan, lawakan, maupun isu yang diangkat. Ambil contoh isu pemilihan presiden tentu ketika itu sedang hangat-hangatnya, akan tetapi tidak digunakan dengan baik oleh sutradara untuk diangkat ke panggung.

Perlu diingat pula bahwa dalam Dagelan, yang lebih menentukan jalannya pementasan adalah pemain, bukan sutradara, maka kedua, diperlukan pemain-pemain piawai dengan jam terbang yang tinggi untuk memainkan pementasan macam Teater Rakyat.

Jam terbang ini kemudian akan menentukan keahlian pemain dalam hal pemahaman atas aksi-reaksi, spontanitas dalam hal melahirkan dan membentuk logika berkomedi, serta kemampuan pemain dalam hal mengajak para penonton untuk ikut berpartisipasi dan masuk secara utuh ke dalam pementasan itu sendiri. Hal-hal ini dinilai masih kurang oleh Sutarno dan Didi Boneng dalam pementasan (Fragmen) Sekda kali itu.

Tampak dua pemain, Yoga ‘Mbek’ Mohammad dan Mohammad Iqbal ‘Dudung’ Fahreza, mampu menghidupkan panggung dan menjadi pemain kuncian dalam pementasan Dagelan tersebut, mengingat dua pemain ini telah beberapa kali ikut dalam pementasan Lenong seperti Tukang Gali Kubur dan Komedi Antiporno sebagai anggota Teater Sastra (Tesas). Namun, di luar itu, sebutlah Meryl, Taufan, Agung S., ‘Kong’ Albi, Adrianus, dan lain-lain masih tampak butuh latihan lebih untuk membentuk karakter Teater Rakyat mereka.

Dan seperti Teater Rakyat lain, cara mengasah kemampuan dalam bermain Dagelan adalah sama: banyak menonton pementasan serupa, memperbanyak jam terbang, dan banyak ‘mencuri’ ilmu serta dialog-dialog lawak andalan dari pemain senior, demikian yang dibagi oleh Dudy ‘Anca’ Septiadi, pemain kawakan Tesas, sambil cekikikan nakal di Mess, Ruang Sekretariat sekaligus Gudang Tesas di 9202, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Ketiga, konten nyanyi, lawak, dan tari juga tidak luput dari (Fragmen) Sekda yang lampau. Napas dari pementasan ini adalah dangdut. Sebuah demam yang telah dibawa sejak pementasan Paradoks-Agora yang sebelumnya, yaitu Orkes Menuju Bulan, musik yang menjiwai dan menyatukan rakyat Indonesia. Selain selebrasi dangdut, ada juga pembawaan lagu Kalau oleh seluruh pemain.

Lagu Kalau ini menjadi bagian yang penting dalam Dagelan (Fragmen) Sekda, karena inti dari Dagelan sendiri adalah lawakan dan pengandaian. Semua orang, tanpa terkecuali, dipersilakan maju, berandai, dan melawak di panggung – batas panggung bahkan lebih saru daripada pertunjukan Lenong. Akan tetapi, eksekusi yang kurang meyakinkan dan menjiwai dari pemain mengakibatkan kadar keasikan dangdut terbatas.

Penikmatan yang dirasakan oleh pemain terasa kurang. Panggung terasa asing. Alur permainan Dagelan menjadi cenderung lamban dari awal hingga tengah. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab komunikasi yang terhambat dengan penonton, sehingga penonton kurang merasa tertarik untuk terlibat dalam pementasan. Penonton tak akan merasa cukup percaya diri untuk naik panggung apabila pemain di atas panggung tidak cukup mengenal panggungnya sendiri.

Tidak cukup mengenal panggung, secara harafiah, juga menjadi salah satu kekeliruan fatal kelompok teater ini. Beberapa hari sebelum pementasan, Aldisar Syafar dari Teater Remaja Jakarta dan Bangkit Sanjaya datang untuk membantu dalam proses latihan untuk memberi pengarahan dan kendali agar arah pementasan tidak keluar jalur.

Di hari itulah pembelajaran dari para anggota atas panggung yang akan mereka jajaki baru dimulai, dan baru disadari pula pada hari itu bahwa bentuk panggung di Ruang Apresiasi Terbuka bukan panggung senyum seperti di Auditorium Gedung 9 FIB UI, panggung Graha Bhakti Budaya, maupun panggung Teater Kecil, melainkan panggung arena terbuka yang memberikan spasi bagi penonton untuk menonton dari samping maupun depan.

Oleh karena itu, konsentrasi setting panggung juga harus segera diubah agar tidak menghalangi penonton yang menonton di samping panggung, begitu pun peletakkan tim musik. Pada hari eksekusi, Sutarno dan Didi Boneng satu suara: pemain kurang mengenali, apalagi menguasai panggung.

Dari hal kecil seperti dekorasi bendera merah putih yang memberikan deklarasi batas panggung dapat dirasakan adanya alienasi dan jarak terhadap penonton, sehingga eksekusi Dagelan tidak terlaksana dengan baik. Permainan yang dibawakan oleh pemain juga masih menggunakan konsep panggung senyum, bukan panggung arena, sehingga pemain kerap ditemukan kesulitan menentukan blocking yang tepat.

Akan tetapi, profesionalitas artistik pencahayaan yang ditata oleh Gambreng dari Teater Agora amat dipuji oleh Sutarno, dan harus diakui, pencahayaan yang diatur oleh Gambreng mampu membentuk suasana, terutama ketika masuk ke bagian bencana kebakaran: panggung disulap menjadi tegang dengan strobo merah mencekam.

Terlepas dari kritikan-kritikan di atas, para sepuh teater itu menyatakan bahwa pementasan cukup menghibur. Akan lebih baik lagi apabila para pemain tetap mengingat tugasnya untuk menghibur dan mengkritik seluruh penonton tanpa terkecuali, sehingga yang mampu menikmati pertunjukan tidak hanya kawan-kawan penampil saja, tetapi juga agar seluruh penonton mengerti dan mampu menikmati guyonan yang ditembakkan.

Dapat dikatakan (Fragmen) Sekda terhitung sebagai pementasan yang baik, tetapi gagal sebagai sebuah Dagelan. Walau bagaimana pun, kelompok teater ini telah mengibarkan bendera di medan kesenian sebagai teater kampus yang masih hidup dan bergairah.

Oleh karena itu, seribu ton amanah ditimpakan kepada mereka sebagai penerus seni teater Indonesia, sebagai pialang untuk menjaga semangat dan kesatuan mereka sebagai teater kampus.

Tentu semua penikmat teater akan dengan suka cita menunggu kelanjutan dari kelompok teater ini: apakah nama mereka akan benar bersanding di kolom sejarah dengan Teater Koma? Apakah mereka sanggup untuk bertahan dan setia terhadap pembudidayaan Teater Rakyat dan terus mengibarkan kritik membangun terhadap bangsa dan negara? Apakah mereka sanggup untuk tetap setia satu sama lain sebagai seniman mahasiswa yang tergabung dalam teter kampus yang menjanjikan?

 

Referensi:

  • Anwar, A. C. (2012). Perkembangan Teater Kontemporer Indonesia 1968-2008. Depok: Universitas Indonesia
  • Dudy ‘Anca’ Septiadi
  • Pementasan (Fragmen) Sekda karya W. S. Rendra oleh Teater Paradoks FISIP UI dan Teater Agora KOMAFIL FIB UI tertanggal 12 Juli 2014 di Taman Ismail Marzuki, Cikini.
Claudia
Claudia Contributor

Mahasiswi Program Studi Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini resmi bergabung ke dalam Teater Sastra UI sejak 2014. Alumni aktif PSUMB, anggota IKMI UI aktif, dan Staff Departemen Seni Budaya BEM FIB UI. Keseharian gadis yang doyan menulis ini selalu dipenuhi canda tawa.

Leave a Reply