Skip to content

Jarak yang Direka di Panggung Teater (1)

TEMPE Enak Dibacem dan Pilu 2 - 1995

Malam itu purnama terik memeluki bumi Cikini. Seakan ada yang merencanakan, bulan menjadi pencahayaan terbaik bagi tiap-tiap pelaku seni yang berlaga di Taman Ismail Marzuki, baik bagi para peserta Festival Hari Puisi Indonesia 2014 di lapangan parkir, maupun seniman teater di Apresiasi Ruang Terbuka.

Di depan Teater Kecil, sementara kawan-kawan berberes setelah (Fragmen) Sekda dipentaskan oleh Teater Paradoks FISIP UI dengan bantuan Teater Agora KOMAFIL FIB UI selesai, kami – saya, Rasikh Fuadi, dan seekor kucing perempuan – menikmati angin. Sontak kutanyakan pendapat ketua Teater Sastra UI (Tesas) yang tengah menjabat itu dengan sederhana, “Menurut kamu tadi gimana, kak?”

“Apanya?”

Sekda…”

’Kan tadi pembicara udah angkat bicara tuh. Spektakuler!”

“Yeh…”

“Namanya juga orang-orang teater rakyat ‘kan… Kritik membangun banyak lahir justru di belakang. Tapi kalau diliat-liat lucu juga.”

“Apanya? Kenapa?”

Sekda karya W. S. Rendra sejatinya Dagelan, Teater Rakyat Indonesia, yang memang paling cocok dipentaskan di panggung jenis teater arena yang meminimalisir bahkan meniadakan jarak antara pemain dengan penonton. Itu dia! Di Indonesia, pementasan seperti itu sudah ada sedari dulu di kampung-kampung, tetapi di luar, justru pementasan jenis ini baru mulai jadi acuan, namanya Happening Art.”

“Teater Indonesia justru malah yang terhitung besar teater bentuk senyum, ya. Makin memberikan jarak antara pemain dengan penonton…”

Barangkali akan lebih adil, sebelum (Fragmen) Sekda pada 12 Juli 2014 silam diulik-ulik cilik, pemahaman atas Teater Rakyat dan Happening Art ini diperdalam terlebih dahulu. Pertama kali diusung oleh Allan Kaprow, seorang seniman Amerika, pada tahun 1950an, Happening Art menjadi bahan garapan yang lezat bagi kaum posmodernis. Lisa S. Wainwright, seorang profesor seni di School of the Art Institute of Chicago, menyatakan di situs britannica.com bahwa Happening Art membawa semangat dan gairah untuk meminimalisir jarak antara seni dengan lingkungannya. Hal ini berimplikasi pada tujuan dari Happening Art sendiri, yaitu menjamah kesadaran penontonnya dengan menyuguhkan tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi pengalaman yang mendekati nyata sebagai cerminan dari realitas yang tengah berlangsung.

Perlu dibedakan dari Invisible Theatre yang diusung oleh Augusto Boal yang berteater tanpa membiarkan timbulnya kesadaran akan pertunjukan itu sendiri, Happening Art dalam seni teater tetap memberadakan kesadaran tersebut. Sama-sama menjebloskan seluruh peserta pertunjukan untuk ikut terlibat dan mengambil peran, gerakan ini kerap ditampilkan di Eropa dalam bentuk yang sederhana.

Contoh dari Happening Art adalah badut-badut dalam festival dan okasi tertentu, boneka maskot perusahaan tertentu yang digerakkan manusia dari dalam, atau dekorasi-dekorasi yang mengambil bagian tidak hanya di panggung, sehingga batas panggung menjadi saru, begitu ucap Dudy ‘Anca’ Septiadi, salah seorang anggota Tesas kawakan yang telah lama berlaga di panggung teater secara khusus dan kesenian secara umum. Tesas sendiri kerap menggunakan metode Happening Art sebagai media publikasi maupun pencarian dana, misalnya saja seorang aktor yang dijadikan patung dan berdiri di pinggir jalan.

Salah satu pertunjukan teater dengan metode Happening Art ditulis oleh R. H. Gardner pada tahun 1963. Mengambil setting sebuah peternakan, di kandang tepatnya, enam orang aktor masuk ke panggung dan memainkan sebuah pertunjukan dengan mengikutsertakan penonton untuk menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri.

Metode ini menuntut kepiawaian seorang aktor untuk berimprovisasi dan menjadikan pertunjukan tersebut nyata di tengah penonton. Sepanjang pertunjukan penonton diajak untuk berinteraksi, tidak hanya melalui usaha nonverbal, tetapi juga secara verbal, dan melanjutkan pertunjukan dengan bereaksi atas reaksi penonton.

Dari situ dapat dipahami bahwa tak ada naskah pasti untuk pertunjukan teater dengan metode Happening Art. Ruang improvisasi bagi para aktor dibuka lebar, dan ruang partisipasi bagi penonton tak kalah lebarnya, sehingga dampak prapertunjukan yang diberikan tentu berbeda dari pertunjukan teater pada umumnya yang memberikan jarak antara pemain dengan penonton.

Namun, seperti apa yang dituturkan kritikus teater Kanada, Gary Botting, walaupun Happening Art menciptakan momen dan gebrakan, metode ini lemah dalam hal alur. Simpulan macam itu tidak aneh, mengingat jalannya pertunjukan bergantung pada aktor dan penonton yang hadir, bukan pada naskah yang pasti, sehingga usaha perencanaan alur yang matang memiliki batasan. Dapat disimpulkan bahwa kunci dari Happening Art adalah jarak dan improvisasi.

Usut punya usut, gerakan ini identik dengan Teater Rakyat Indonesia yang justru sekarang jarang dijamah oleh seniman muda. Dalam disertasinya, Achmad Syaeful Anwar menuliskan bahwa Teater Rakyat, seperti saja Happening Art, dapat dipentaskan di mana saja asalkan panggung berbentuk arena terbuka dan amat tergantung pada tanggapan dan suasana dari penonton.

Teater Rakyat di masa lampau, sebelum seni kontemporer naik daun, tidak berdasarkan pada naskah tertentu, melainkan berdasarkan mitologi, legenda, dan cerita-cerita rakyat, atau sekadar intrik kehidupan sehari-hari yang diadaptasi menjadi sebuah pementasan.

Dengan konten lawak, tari, dan nyanyi yang dikemas dalam bahasa dan nuansa yang akrab dan santai, Teater Rakyat terbagi lagi menjadi banyak jenis dari bermacam daerah, misalnya saja Dagelan dalam Sekda atau Lenong yang menjadi napas dari Tesas.

Ada dua titik kejayaan Tesas dalam membudayakan Lenong, yakni pada periode 2000-2001 ketika Tesas mengisi sebuah acara Lenong di saluran televisi TVRI dan periode 2006 ketika pementasan Lenong diadakan setidaknya setiap minggu sekali di Universitas Indonesia.

Metode pembelajaran Lenong di Tesas adalah dengan pengasahan kemampuan lewat proses reguler. Inti dari permainan Lenong adalah permainan logika, di mana para pemainnya mendapatkan keleluasaan untuk menggali kreativitasnya saling berlomba mencari dialog lawak. Tiap latihan diulang, dialog dapat berubah. Metode ini kemudian mempengaruhi gaya berlatih Tesas bahkan dalam pementasan realis ala Stanislavski.

Contoh pementasan Lenong yang dimainkan adalah Ada Apa dengan Otong? atau Komedi Antiporno. Tim musik berlokasi di panggung yang sama dengan panggung yang digunakan untuk pementasan itu sendiri. Cerita yang diangkat juga merupakan cerita sehari-hari, misalnya isu banjir atau pelacuran di rumah bordil.

Hal ini kemudian menyebabkan interaksi antara pemain dengan penonton dapat berjalan dengan lebih mudah karena apa yang disajikan di atas panggung dapat dimengerti, bahkan juga dialami oleh penonton, sehingga penonton dapat melibatkan diri dalam pementasan. Celetukan-celetukan kecil mewarnai pementasan, dan pemain mendapatkan ruang improvisasi yang lebih luas dari celetukan tersebut.

Dalam Happening Art, tidak semua unsur teater harus bernapaskan Happenings, misalnya Dagelan moderen yang dibawakan melalui (Fragmen) Sekda, di mana tim musik sejajar dengan pemain dan isu yang dibawa terhitung merakyat, tetapi kurang ada rangsangan untuk memicu penonton ikut serta mewarnai pementasan.

Walaupun begitu, jantung dari Happening Art dan Teater Rakyat Indonesia adalah sama, yakni jarak yang intim antara pemain dengan penonton dan ruang improvisasi bagi pemain, maka amanlah untuk menyatakan bahwa Happening Art dan Teater Rakyat merupakan wujud yang sama dari seni pertunjukan. Seperti telah banyak dibahas sebelumnya, kelebihan teater macam ini adalah mampu menghasilkan aktor dan aktris yang piawai dan lihai dalam menjalankan pementasan yang sifatnya spontan.

Pementasan macam ini juga memberikan hiburan dan kritik yang ringan, tetapi tepat sasaran, sehingga pesan yang dibawakan lebih mudah untuk masuk ke ranah berpikir penonton. Akan tetapi, pementasan macam ini cenderung mempersempit ruang bagi sutradara untuk berkreasi, karena naskah adalah sesuatu yang tidak pakem sifatnya dan pembentukan karakter cenderung merupakan hak prerogatif pemain untuk digarap. Oleh karena itu, naskah dan alur dari pementasan macam ini cenderung lemah.

Namun, kembali ke pernyataan awal, teater Indonesia justru semakin memberikan jarak antara pemain dengan penonton. Ketika teater dunia menuju ke arah di mana keaktoran dipelajari dengan jujur, lugas, dan secara logis spontan, teater Indonesia justru semakin meninggalkan Teater Rakyat yang bernapaskan Happening Art. Terpengaruh penemuan barat, teater Indonesia malah seakan berjalan bolak-balik dan kehilangan kepribadian.

Untuk mengikuti pergerakan teater dunia, teater Indonesia justru harus kembali ke Teater Rakyat sebagai Teater Tradisi Indonesia. Sebagai seniman muda Indonesia, kembali ke akar dan tradisi budaya Indonesia adalah hal yang penting dan esensial, apalagi mengingat teater dunia justru banyak belajar dari Teater Tradisi kita.

Kitalah para pewaris harta budaya bangsa, dan lewat tangan kitalah Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan kaya – mengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya sendiri, dan bukankah kita semua mengamini itu?

Selain sebagai media atraksi dan edukasi, Teater Rakyat juga dapat dibawakan oleh teater kampus sebagai media kritik, seperti saja (Fragmen) Sekda yang dibawakan oleh Teater Paradoks dan Agora tempo hari. Sudah saatnya seniman teater muda mulai unjuk gigi memberikan kontribusi dalam membangun negeri dengan memopulerkan budaya sendiri! (ad)

 

Sumber:

  • http://www.britannica.com/EBchecked/topic/254739/Happening
  • Boal, A. (2005). Games for Actors and Non-Actors: Second Edition. New York: Taylor & Francis Group
  • Gardner, R. H. (1963). A Happening. Baltimore: The Sun
  • Anwar, A. C. (2012). Perkembangan Teater Kontemporer Indonesia 1968-2008. Depok: Universitas Indonesia
  • Dudy ‘Anca’ Septiadi
  • Pementasan (Fragmen) Sekda karya W. S. Rendra oleh Teater Paradoks FISIP UI dan Teater Agora KOMAFIL FIB UI tertanggal 12 Juli 2014 di Taman Ismail Marzuki, Cikini.
Claudia
Claudia Contributor

Mahasiswi Program Studi Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini resmi bergabung ke dalam Teater Sastra UI sejak 2014. Alumni aktif PSUMB, anggota IKMI UI aktif, dan Staff Departemen Seni Budaya BEM FIB UI. Keseharian gadis yang doyan menulis ini selalu dipenuhi canda tawa.

Leave a Reply