Skip to content

Hari ini, Kau adalah Seorang Penata Musik: Instalasi Musik untuk Non-Profesional

Tragedi Macbeth, Graha Bhakti Budaya, TIM, 2009

Kau memasuki gedung pertunjukan. Hari ini adalah kali pertama dirimu menjadi penata musik untuk sebuah pertunjukan teater mahasiswa, dan kau terdiam sejenak setelah berdiskusi dengan seluruh tim produksi pertunjukan.

Kau baru saja menyadari bahwa tugasmu bukan hanya membuat sebuah komposisi musik yang menyeluruh. Pagi itu, sebelum pertunjukan dimulai nanti malam, mendadak kau harus berurusan dengan banyak hal baru yang tidak kau pikirkan sebelumnya.

Diskusi dengan stage manager tadi membuatmu menyadari satu hal, bahwa mungkin selain tim musik yang kau bentuk dan dirimu sendiri, tidak ada siapapun yang paham betul soal apa saja yang perlu kamu lakukan untuk menyiapkan pertunjukan musik yang baik tanpa gangguan teknis yang berarti.

Saat itu juga mendadak kau merangkap pula menjadi koordinator dadakan yang harus melakukan instalasi alat musik dan memastikan sound check berjalan dengan baik. Bukan hanya itu, kau baru sadar kalau kau harus melakukan koordinasi dadakan dengan penata suara, atau yang lazim disebut dengan sound engineer, dan juga dengan penata lampu.

Setelah secangkir kopi kau reguk sambil berpikir, kau bangkit dari dudukmu dan memulainya. Jam tanganmu berdetak di pukul sembilan lebih lima belas menit. Itu artinya kau memiliki waktu kurang dari sebelas belas jam untuk mempersiapkan semuanya, sebelum pertunjukan mulai jam delapan nanti.

Alat-alat musik sudah sampai di gedung tanpa lecet sedikit pun. Setidaknya hari ini memiliki awal yang baik. Pengalamanmu sebagai pemain musik yang sudah menyintasi pangggung demi panggung mengajarimu bahwa mengangkut alat-alat musik sangat memerlukan kehati-hatian berlebih.

Kau paham betul bahwa membawa peralatan musik adalah membawa sebagian jiwa dari pemusik yang hendak main bersamamu, dan bagian jiwa yang demikian secara harfiah sangatlah rapuh dan mudah rusak. Lecet sedikit saja bisa mengganggu ketulusan pemainnya dalam bermain, apalagi rusak berat, selain kau bisa meruntuhkan seluruh komposisi yang sudah kau kerjakan, bisa jadi kau juga bisa kehilangan musisi yang memilih untuk tidak ikut dalam produksi itu karena alat musiknya rusak.

Kau tidak mau merusaknya karena hal seremeh ini, yang sebetulnya sama sekali bukan remehan tapi kadang luput dari perhatian sebagian dari kita. Komposisi yang kau buat selama tiga bulan terakhir terlalu penting untuk dirusak oleh sedikit kesalahan teknis, oleh sebab itu kau menanggapinya dengan sangat serius.

Seperti yang banyak orang ketahui, para pemusik sangatlah sensitif menyangkut hubungan mereka dengan alat musiknya. Louis Armstrong, suatu kali ia bertengkar dengan istrinya, pertengkaran itu memuncak sampai istrinya melempari Louis yang malang dengan piring dan segala macam perabotan pecah belah.

Spontan ia menutupi bibirnya erat-erat sambil lari menghindar kesana-kemari.

Bibir adalah kunci dalam permainan terompet, dan demi apapun Louis akan menjaganya dari luka yang walau hanya secuil. Terompetnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidupnya, sehingga apapun cedera boleh diderita, asal jangan bibir yang kena luka; asal jangan sampai ia tidak bisa meniup terompet.

Ada pemain musik yang hanya bisa tulus lepas bermain dengan alat musik miliknya sendiri; setiap berat tuts yang ditekan; setiap tebal senar yang dipilih; setiap kuatnya tegangan membran; semuanya berhilir pada kesukaan pribadi masing-masing pemusik. Membawa alat semacam itu tentu membutuhkan juga hati, selain kehati-hatian.

Adalah pilihan tepat untuk membungkus semua peralatan bermembran seperti perkusi dan lainnya ke dalam pembungkus khusus yang tahan guncangan. Hardcase atau flightcase akan sangat membantu dalam hal transportasi alat musik, akan tetapi jika pertunjukanmu adalah pertunjukan dengan budget terbatas, kau mungkin tidak akan sanggup menanggung biaya pembuatan hardcase yang harganya ratusan ribu sampai jutaan, terlebih lagi flightcase yang memang diproduksi khusus untuk perjalanan lintas benua dan sangat mahal.

Kau mengakalinya dengan memilih kotak-kotak kayu buatanmu sendiri, yang di dalamnya berbalut bantalan busa tebal dan lilitan kain untuk melindungi alat-alat bermembran tersebut dari benturan. Hal itu telah menjadi perhatian khususmu dari jauh-jauh hari karena ternyata kau harus mengangkut alat-alat musik dengan mobil pengangkut barang.

Sebabnya adalah penyedia transportasi pertunjukan yang tidak bisa menyediakan mobil yang cukup besar untuk menampung sejumlah alat yang hendak kau bawa ke gedung pertunjukan. Alat-alat musik seperti alat musik tiup, gitar, bass dan keyboard relatif lebih mudah mencari hardcase-nya, dan upayamu untuk meminjam semua itu berhasil mencegah pemborosan biaya. Setidaknya hal itu sudah beres sekarang, dan kini kau bisa melanjurkan kerjamu pada instalasi alat-alat musik.

Instalasi dimulai. Kau mulai berkoordinasi dengan penata suara untuk mengatur banyak line yang hendak dipakai. Kau masuk ke ruang mixer dan saat itu juga kau bersumpah untuk membawa penata suara sendiri besok-besok. Penata suara di gedung ini jelas sekali kurang bisa diajak untuk berkoordinasi dengan rapi. Ia dengan lamban mengatur line, lalu ketika semua itu selesai, ia lupa mencatat line setiap alat musik pada mixernya.

Kau berpikir cepat dan mengambil double tape, mencatat nama-nama alat musik dan sejumlah microphone di tiap lokasi set alat, dan menempelkannya di tiap line mixer. Ini jelas akan membantu, pikirmu. Instalasi berlanjut dengan pemasangan lakban di tiap kabel jack yang terhubung dengan alat musik elektrik. Setiap sambungan kau bebat erat, setiap siku dan kaki stand microphone kau ikat kaku untuk mencegah pergeseran mic yang dapat mempengaruhi suara yang ditangkap, sepanjang sisa panjang kabel yang tak terpakai kau gulung, rapihkan dan kau lakban.

Semua demi menghilangkan pikiran amit-amitmu yang membayangkan kalau nanti ada orang yang kakinya tidak sengaja tersangkut kabel, jatuh, dan merusak satu atau dua alat di sekelilingnya. Semua itu beres, kemudian kau baru sadar kalau para pemusik membutuhkan lampu kecil untuk membaca catatan clue adegan.

Bergegas kau meminta tolong seorang orang kru panggung untuk membeli sejumlah senter kecil di toko terdekat. Tak terasa, waktu sudah menyeretmu sampai pukul empat sore. Menentukan penempatan setiap scoreboard, alat musik, microphone dan lokasi yang nyaman untuk setiap pemusik, kemudian melakukan wiring dan check line telah memakan hampir setengah waktu yang kau miliki, dan kau bahkan belum melakukan sound check, lalu berkoordinasi dengan penata suara dan lampu.

Kau kembali ke ruangan penata suara, kemudian mendapati kalau penata suara gedung ini memang betul tak bisa diandalkan. Ia hanya bilang kalau ada kondangan saudaranya dan ia tidak bisa melakukan sound check, apalagi memantau pertunjukan nanti malam. Waktu sontak darurat, dan kau menelepon penata suara kenalanmu untuk membantu.

Telepon itu adalah judi, sebab sangat sedikit orang yang mau melakukan pekerjaan berat semacam ini dengan dadakan. Beruntung salah satu kenalanmu mau membantu, tapi membutuhkan dua jam untuk bisa sampai ke gedung pertunjukan.

Dua jam waktu hampa, lalu akalmu mendesak-desak cari udara.

Kau menghampiri penata lampu dan mendiskusikan penyelarasan setiap cue musik yang telah dicatat dengan clue lampu yang sudah ia siapkan; pendeknya dia dan dirimu merajut kesalingpahaman ketika lampu hidup padam, ketika musik alun dan senyap. kurang dari satu jam diskusi tersebut selesai dan kau masih punya sisa waktu satu jam lagi sebelum kawan penata suaramu datang.

Kembali menghirup kopi dan mengisi perut adalah yang terbaik di saat seperti ini, ketimbang panik tanpa arah, pikirmu.

Empat puluh lima menit kemudian, kawan penata suaramu datang. Ia datang lebih awal, dan ini benar-benar membantu. Stage Manager baru saja menghampirimu dan bilang kalau setelah jam tujuh, semua harus benar-benar sudah siap. Itu artinya hening sampai pertunjukan dimulai, itu artinya sisa satu jam yang kau punya adalah pertaruhan yang besar.

Tanpa buang waktu, kau mengumpulkan semua pemusik dan menempatkannya ke tempatnya masing-masing. Setelah memberi arahan soal penggunaan senter dan untuk berhati-hati dengan semua gulungan kabel dam microphone, kau memulai sound check. semua itu memakan waktu hampir satu jam dan kini kau hanya punya sisa waktu dua puluh menit untuk berdiskusi dengan penata suara. Lalu kau mulai menjelaskan soal cue musik dan efek suara di tiap adegan dan memastikan kalau ia harus benar-benar paham pentingnya timing dalam tiap clue.

Dua kali beruntung sebab daya tangkap temanmu mengagumkan, juga ia menanyakan dari mana saja arah suara dari masing-masing sound effect di tiap adegan; Sebuah aspek yang luput dari geliat pikiranmu. Penata suara punya kemampuan untuk menekuk suara ke arah yang ia inginkan, dan kau menyimpan pengetahuan itu baik-baik dalam ingatanmu.

Kau baru saja bisa tersenyum lepas ketika stage manager menepuk pundakmu dan bersiap-siap untuk memulai pertunjukan.

Lalu layar tertutup dan lampu padam. Lalu senyap, tik, tik, tik sampai gong bergaung menyudahi meditasi. Langkah kaki dan suara orang berbincang tertawa adalah tanda kalau aspek paling penting dari pertunjukan ini, yakni para penonton, sudah tiba.

Satu, dua, tiga dan dimulailah semua keajaiban tata musik dan suara ketika layar terbuka.

Rahman C. Mukhlas
Rahman C. Mukhlas Contributor

1 Comment

  • FIRMANSYAH CAKMAN 09/01/2014 // 5:44 pm

    cakman mana nih..??? hehehehe

    Reply

Leave a Reply