Skip to content

Dongeng Xua-Xua, Perempuan Zaman Pra-manusia yang Menemukan Teater (Bagian III)

OLEH: AUGUSTO BOAL

Pada suatu hari yang cerah, Xua-Xua melahirkan seorang anak di tepi sungai. Li-Peng masih saja memperhatikan dari balik pohon, tidak berbuat apa-apa, ketakutan.

Ini merupakan suatu keajaiban. Xua-Xua menatap anaknya tapi tidak dapat mengerti. Tubuh kecil mungil ini yang sebelumnya adalah bagian dari tubuhnya, berada di dalam dirinya, kini berada di luar. Xua Xua yakin bahwa anak ini adalah bagian dirinya.

Ibu dan anak merupakan satu dan sama. Buktinya tubuh kecil itu (bagian dari dirinya) selalu ingin kembali untuk menyatu dengan tubuh inti, yakni dengan menghisapi payudaranya, sehingga dia semakin yakin, keduanya adalah dirinya; kedua tubuh ini adalah dia.

Tanpa keraguan, Li-Peng mengamati dari kejauhan sebagai penonton yang baik.

Lig-Lig-Le tumbuh, belajar berjalan pada dua kakinya, dan berusaha memakan sesuatu selain susu dari tubuh induknya, dan dalam waktu singkat, perlahan ia menjadi lebih mandiri; terkadang ia tidak mau mematuhi tubuh-induknya.

Xua-Xua pun takut, rasanya seperti menyuruh tangannya sendiri untuk berdoa tapi sebaliknya malah memukul, atau memerintahkan kakinya untuk duduk tetapi malah berjalan pergi. Sebuah pemberontakan berlangsung, dipimpin oleh sebuah bagian kecil dari dirinya. Bagian kecil tetapi berharga dari tubuhnya.

Namun, organ tubuh terpisahnya itu melakukan muslihat, nakal, dan tidak patuh. Li-Peng hanya mengawasi mereka (mengawasinya Xua-Xua-besar dan Xua-Xua-kecil). Dia menjaga jaraknya, hanya mengamati.

Pada suatu hari saat Xua-Xua sedang tidur. Li-Peng penasaran karena dia tidak dapat memahami hubungan antara Xua-Xua dan anaknya. Ia juga ingin mencoba membangun hubungan sendiri dengan anak ini. Alhasil ketika anak itu terbangun sebelum ibunya bangun, Li-Peng menarik perhatiannya dan mereka berdua pergi keluar bersama.

Dari awal Li-Peng sadar bahwa ia dan anak ini adalah dua tubuh yang berbeda. Si anak adalah ‘individu yang lain’ dan bukan dia, bukan Li-Peng.

Li-Peng-mengajarkan Lig-Lig-Le cara untuk berburu dan memancing dan anak itu pun senang. Kemudian ketika Xua-Xua terbangun dan mencari tubuh kecilnya tidak ia dapati keberadaannya, ia bersedih. Ia menangis (karena ia telah kehilangan bagian penting dari dirinya) dan berteriak-teriak, berharap tangisannya akan terdengar. Namun, Li-Peng dan anak itu sudah pergi jauh.

Akan tetapi, mengingat mereka berada di satu gerombolan yang sama, beberapa hari kemudian Xua-Xua melihat keduanya, ayah dan anak. Dia ingin sekali mendapati tubuh bayinya kembali, tapi Lig-Lig-Le menolak. Dia begitu senang dengan ayahnya yang mengajarkan kepadanya hal-hal yang ibunya tidak bisa lakukan.

Xua-Xua harus menerima kenyataan bahwa tubuh kecil itu, walaupun terlahir dari dirinya, tetaplah orang lain. Orang dengan kebutuhan dan keinginannya sendiri. Penolakan Lig-Lig-Le menuruti ibunya membuatnya sadar bahwa mereka adalah dua individu yang berbeda, bukan satu.

Xua-Xua tidak ingin tinggal dengan Li-Peng, sedangkan Lig-Lig-Le ingin tinggal dengan pejantan itu. Masing-masing telah membuat pilihan mereka sendiri. Masing-masing memiliki pendapat. Masing-masing memiliki perasaan mereka sendiri. Mereka adalah orang yang berbeda, dan dia harus menerima perbedaan mereka untuk memungkinkan terjadinya dialog!

Pengetahuan ini memaksanya untuk mengidentifikasidirinya sendiri: tentang siapa dia? Siapa anaknya? SiapaLi-Peng? Dimana mereka Apa yang akan terjadi selanjutnya, jika perutnya membuncit lagi? Apakah dia menyukai Li-Peng sekarang ini sebanyak rasa suka sebelumnya?

Apakah ia akan mencoba berhubungan dengan pria lain, sebagaimana Li-Peng ia telah mencoba dengan wanita lain? Apakah semua laki-laki itu seganas Li-Peng? Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Apakah ia akan tetap seperti ini? Apa yang akan terjadi besok? Xua-Xua mencari jawaban dengan melihat dirinya sendiri.

Pada titik inilah, teater ditemukan. Di saat ketika Xua-Xua menyerah mencoba membuat bayinya kembali dan memiliki bayinya hanya untuk dirinya sendiri. Di saat ia menerima kenyataan bahwa anaknya adalah orang lain dan memandang dirinya sendiri, mengosongkan sebagian dari dirinya.

Pada saat itu ia dalam satu waktu yang sama, adalah aktor dan penonton. Ia menjadi spect-actor. Dalam menemukan teater, sesosok makhluk tadi telah menjadi manusia.

Inilah teater, sebuah seni melihat diri kita sendiri.

####

Selesai

———————————–

Diterjemahkan oleh M. Rezha Marcelo. S

Sumber: Boal, Augusto. Games for Actors and Non-Actors. London and New York: Routledge, 2002.

Rezha Marcelo
Rezha Marcelo Contributor

Lelaki macho gondrong ini lebih dikenal dengan panggilan “Machel” atau “Rezha”. Ia menuturkan ketertarikan terhadap seni teater muncul setelah menonton pertunjukan kelas KDST (salah satu mata kuliah Program Studi Inggris) “Lenong Kaki Lima” (2011). Kemudian pada tahun yang sama memutuskan bergabung dengan kelompok Teater Sastra UI dan memulai debut teater untuk pertama kalinya pada pementasan “Baju Baru Sang Raja” (2011). Ia resmi dilantik sebagai anggota Teater Sastra UI pada Januari 2012. Pada tahun yang sama, ia juga pernah ikut dalam pementasan EAL (English Art Lab) dengan judul “Manusia Kayu” (2012), pementasan KDST “Ada Apa Dengan Otong?” (2012), dan yang terakhir pementasan Teater Sastra UI yang berjudul “Musuh Masyarakat” (2012).

Leave a Reply