Skip to content

Dongeng Xua-Xua, Perempuan Zaman Pra-manusia yang Menemukan Teater (Bagian II)

OLEH: AUGUSTO BOAL

Sebuah dongeng Cina kuno, berasal dari sepuluh ribu tahun sebelum masehi, menceritakan kisah Xua-Xua (dibaca ‘Shwa-Shwa’), seorang wanita di zaman pra-manusia yang telah membuat penemuan luar biasa: teater.

Berdasarkan kisah tua ini, yang menemukan teater adalah seorang wanita—bukan pria! Kaum pria hanya mencuri seni yang indah ini dan secara berkala di sepanjang zaman, mengeluarkan kaum wanita dari peran keaktoran; bahkan kadang kala tidak juga sebagai penonton.

Dalam lingkungan masyarakat tertentu, laki-laki mengambil dan memainkan peran wanita. Sebagai contoh, di zaman Shakespeare seorang laki-laki muda (yang belum dewasa dan belum matang) memerankan seorang ratu yang sudah dewasa.

Karena teater merupakan bentuk kesenian yang begitu kuat dan tahan lama, kaum pria menemukan cara-cara baru untuk mendayagunakan apa yang pada dasarnya penemuan kaum wanita.

Wanita menemukan seni ini dan laki-laki mengembangkan keahliannya; bangunan, drama, akting.

Xua-Xua hidup ratusan ribu tahun yang lalu, era dimana pra-perempuan dan pra-pria mengembara dari gunung ke lembah, dari darat ke laut, membunuh binatang untuk dijadikan makanan, memakan dedaunan dan buah-buahan dari pohon, meminum air dari sungai-sungai, bernaung di dalam goa-goa di bebatuan.

Era ini berada jauh sebelum kedatangan Neanderthal dan Cro-Magnon, jauh sebelum Homo sapiens dan Homo habilis, yang sudah hampir menyerupai manusia dalam segi tampilan fisik, berat massa otak, dan juga kekejaman mereka.

Makhluk pra-manusia ini hidup berkelompok yang merupakan cara terbaik untuk mempertahankan diri. Xua-Xua (tentu saja tidak ada nama seperti itu mengingat belum ditemukannya bahasa verbal, bahkan tidak pula ‘proto mundo’, bahasa primitif) merupakan betina yang paling cantik di kelompoknya, dan Li-Peng adalah yang terkuat dari kaum pejantan.

Secara alami mereka saling tertarik satu sama lain, mereka suka berenang bersama, memanjat pohon dan mendaki pegunungan bersama, mengendus dan menjilati satu sama lain, menyentuh, memeluk, melakukan hubungan seks bersama. Rasanya begitu menyenangkan untuk bersama satu sama lain. Bersama. Mereka begitu bahagia, selayaknya dua pasangan pra-manusia yang seharusnya.

Pada suatu hari, Xua-Xua merasa ada yang berbeda dengan tubuhnya. Perutnya membuncit dan membesar. Seiring dengan perutnya yang membesar, ia menjadi malu dan mulai menghindari Li-Peng yang tidak dapat memahami apa yang sedang terjadi; Xua-Xua-nya bukan lagi Xua-Xua yang pernah ia kenal, baik secara fisik maupun suasana hatinya.

Mereka menjaga jarak satu sama lain. Xua-Xua menjadi lebih suka menyendiri, menatapi perutnya; Li-peng pun pergi mengejar wanita lain, namun tidak seorangpun bisa menggantikan perempuannya yang pertama.

Xua-Xua merasakan perutnya bergerak; ketika tidur, perutnya bergeser dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan. Seiring berjalannya waktu, perutnya pun semakin membesar dan semakin sering bergerak. Seperti seorang penonton yang baik, Li-Peng hanya melihat dari kejauhan.

Ia sangat sedih dan takut. Ia memerhatikan tanpa mengambil tindakan. Ia jadi penonton dari perilaku yang tidak dapat ia mengerti.

Di dalam perut sang ibu, adalah Lig-Lig-Le—tentu ini bukan nama anaknya, karena belum ada bahasa yang ditemukan, tapi karena ini dongeng Cina kuno maka kita harus menggunakan kebebasan interpretasi kita!

Di dalam perut Xua Xua, Lig-Lig-Le telah semakin membesar, tetapi tidak bisa leluasa menentukan batas-batas tubuhnya. Apakah tubuhnya sebatas kulitnya? Ataukah sebatas cairan ketuban di mana ia mengapung? Apakah tubuh Lig-Lig-Le berakhir pada batas lingkup sekitar tubuh ibunya? Apakah itu yang disebut dunia?

Pada saat itu, Lig-Lig-Le, ibunya dan dunia merupakan sebuah satu kesatuan; ia adalah mereka dan mereka adalah dia. Inilah sebabnya, bahkan hari ini, pada saat kita membenamkan tubuh telanjang kita ke dalam air di kolam mandi kita, di kolam renang, atau di laut, kita dapat merasakan kembali sensasi-sensasi primitif tersebut dan kita satukan tubuh kita ke seluruh alam, Ibu Pertiwi.

Kebingungan tubuh dan dunia ini terjadi karena indera Lig-Lig-Le yang belum sepenuhnya diaktifkan. Ia masih belum bisa melihat karena matanya terpejam.Ia tidak bisa mencium bau karena tidak ada ruang udara didalam tempat kecil dansempit itu. Dia tidak bisa bernapas atau mencicipi rasa karena dia diberi makan melalui tali pusar dan bukan melalui mulutnya.

Dia tidak bisa merasakan karena kulitnya selalu menyentuh cairan yang sama pada suhu yang sama dan tidak bisa merasakan perbedaan apapun. Padahal semua perasaan dapat terasa dengan membandingkan: kita merasakan suara karena kita bisa mendengar keheningan, kita menyukai harum parfum yang baik karena kita bisa mencium bau tidak enak.

Pendengaran adalah indera pertama untuk muncul dengan jelas. Lig-Lig-Le secara nyata dirangsang oleh telinganya.Dia mendengar irama yangterus menerus secara berkala, yang muncul tak terkontrol; detak jantung ibunya, denyutan darah yang melalui pembuluh darahnya, suara lambung, serta suara-suara dari luar.

Sensasi pertamanya yang jelas adalah akustik, suara-suara yang dia harus atur, disusun secara terstruktur. Itulah sebabnya musik adalah seni yang paling kuno, yang paling berakar, karena musik berasal dari rahim. Musik membantu kita untuk mengatur dunia tetapi tidak untuk memahaminya. Musik adalah seni pra-manusia, yang telah diciptakan sebelum kelahiran kita.

Seni-seni lainnya mengikuti setelah indera lainnya telah tersingkap. Satu bulan setelah kelahiran,bayi mulai melihat. Pertama hanya melihat bentuk, kemudian melihat dengan lebih jelas. Namun, apa yang bisa kita lihat ketika sudah dewasa?

Kita selalu melihat aliran gambar bergerak secara terus menerus. Itulah sebabnya kita membutuhkan seni visual-untuk mengatur gambar dengan menghentikan gerakannya, yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Fotografi, bioskop, dan lukisan impresionisme muncul kemudian untuk menghentikan bukan hanya benda-benda yang tertangkap dalam sebuah gerakan, tetapi gerakan itu secara keseluruhan.

Seni-seni ini melihat kenyataan dari luar. Sebaliknya, seni tari memakai gerakan dan mengaturnya, menggunakan suara sebagai pendukung. Tari adalah suara dalam bentuk darah dan daging. Dari sini kita memiliki tiga indera yang berhubungan dengan seni: pendengaran, penglihatan, dan sentuhan.

Ketiganya adalah yang utama dan dapat terjadi antara sesama aktor.

Namun di antara aktor dan penonton, hanya penglihatan dan pendengaran yang dipakai, sentuhan hampir tidak pernah. Sementara itu, dua sisa indera lainnya, pengecap, dan bau, lebih dekat dengan aspek-aspek praktis kehidupan hewani daripada aspek seni.

####

Bersambung ke tulisan berikutnya.

 

———————————–

Diterjemahkan oleh M. Rezha Marcelo. S

Sumber: Boal, Augusto. Games for Actors and Non-Actors. London and New York: Routledge, 2002.

Rezha Marcelo
Rezha Marcelo Contributor

Lelaki macho gondrong ini lebih dikenal dengan panggilan “Machel” atau “Rezha”. Ia menuturkan ketertarikan terhadap seni teater muncul setelah menonton pertunjukan kelas KDST (salah satu mata kuliah Program Studi Inggris) “Lenong Kaki Lima” (2011). Kemudian pada tahun yang sama memutuskan bergabung dengan kelompok Teater Sastra UI dan memulai debut teater untuk pertama kalinya pada pementasan “Baju Baru Sang Raja” (2011). Ia resmi dilantik sebagai anggota Teater Sastra UI pada Januari 2012. Pada tahun yang sama, ia juga pernah ikut dalam pementasan EAL (English Art Lab) dengan judul “Manusia Kayu” (2012), pementasan KDST “Ada Apa Dengan Otong?” (2012), dan yang terakhir pementasan Teater Sastra UI yang berjudul “Musuh Masyarakat” (2012).

Leave a Reply