Skip to content

NOSTALGIA PUTRI AYUDYA: “Saya jatuh cinta. Pada teater. Titik.” (BAGIAN II)

Lady Macbeth dalam Tragedi Macbeth, Graha Bhakti Budaya, TIM

2. Menikmati

Saya sadar sudah membuat keputusan yang melanggar perintah orang tua. Saya sadar sudah memilih jalan baru. Saya sadar saya jatuh cinta. Pada teater. Titik.

Maka saya mengatakan pada orang tua kalau saya tidak bisa tidak harus bermain teater. Saya harus terlibat dalam dunia yang ini. Saya berjanji prestasi akademik dan kegiatan lain di luar itu tidak akan terganggu.

Dengan berbagai perdebatan, saya yang keras kepala tetap memilih untuk berlatih teater. Saya datang rutin latihan. Cukup disiplin pada latihan fisik, kedatangan, dan loyal pada berbagai keadaan. Beberapa pentas saya ikuti. Berbagai peran saya jalani: pelacur di sebuah rumah bordil untuk lenong kampus, seorang istri pengidap HIV, dan seorang permaisuri ambisius dalam karya Shakespeare.

Bukan hanya dalam seni peran. Saya juga belajar sebagai tim produksi: menjadi pencari dana, mengenal dan menggunakan tata rias, menyambung kabel, dan membuat kostum megah. Terutama saya belajar sebagai sutradara, penentu permainan: bagaimana konflik dibentuk, membuat tiap pemain masuk dalam karakter, dan lesap pada cerita tetapi ketika selesai pementasan tetap mengontrol diri dan kembali pada realita.

Di Teater Sastra, saya belajar ketulusan dari Mulyadi, seorang dosen sederhana yang saat ini menjadi seorang Ayah. Ia membuat saya merasa tenang dan dihargai setiap kali menjabat tangan saya.

Saya belajar kesungguhan dari Herlin Putri dan Rahadian Adetya, dua aktor luar biasa, yang membuat saya bahagia betul ketika dua idola ini memutuskan untuk ini menikah.

Saya mendapatkan sahabat terbaik dari Maftuh Ihsan, anak rantau, yang sekarang menjadi kekasih sahabat saya, Wulansari Ardianingsih.

Saya belajar ketangguhan dari Wanodya Bangun Pertiwi dan Tika Primandari, yang memiliki hati jauh lebih besar dari tubuh mungil mereka.

Saya belajar tentang perjuangan dari Nihaqus dan Yoga Mohammad, yang berdiri di atas dua kaki sendiri dan entah bagaimana dapat berlari secepat cahaya.

Saya belajar kesetiaan dari Anca Dudy dan Pawl, para ksatriaku yang perkasa.

Saya belajar ide-ide liar dan keberanian dari Nosa Normanda, seniman dan manusia seutuhnya.

Saya belajar tanggung jawab, keyakinan, dan kekuatan dari Yudhi Soenarto, guru, manusia luar biasa.

Lalu adik-adik spesial yang membuat saya belajar arti dari belajar: Yoel Fermi, Agrita, Dita, dan Olivia Sandra. Beberapa teman lain tidak bisa tersebut karena saya menahan rindu yang terlalu besar.

Saat itulah rasanya pertama kali saya sungguh jujur pada diri sendiri. Semua pengalaman yang ada mengubah saya sebagai pribadi.

Senang, sedih, marah, dan bahagia. Mau apa lagi, saya tidak bisa bohong lagi. Saya jatuh cinta. Pada teater. Titik.

———————

Bersambung ke tulisan berikutnya.

Putri Ayudya
Putri Ayudya Contributor

Sosok yang mungkin lebih dikenal melalui program televisi ‘Jejak Petualang’ ini adalah salah satu anggota Teater Sastra UI. Putri mengenyam pendidikan S1 di fakultas Psikologi UI pada 2006. Selang dua tahun kemudian, ia menjadi anggota Teater Sastra UI setelah bermain pada pementasan ‘Sayang Aku HIV, Kamu Ngapain Aja?’ (2009). Kemudian aksi panggungnya semakin berkembang dengan menjadi Lady Macbeth dalam ‘Tragedi Macbeth’ karya William Shakespeare yang merupakan hasil terjemahan dan penyutradaraan I. Yudhi Soenarto.

Leave a Reply