Skip to content

NOSTALGIA PUTRI AYUDYA: “Jangan ambil pilihan mata kuliah seni teater!” (BAGIAN I)

"Sayang Aku HIV. Kamu Ngapain Aja? Teater Kecil, TIM

1. Menemukan

Sejak kecil rasanya saya memang menyukai berada di atas panggung. Berperan sebagai domba dalam drama natal, menjadi pembawa acara dalam drama tahunan di TK, dan menari sebagai seekor kelinci.

Tanpa saya sadari semuanya terkait dengan seni pertunjukkan, khususnya seni peran. Memasuki masa SMP saya dan kakak kelas berusaha membuat ektrakurikuler teater di sekolah. Kami membujuk pihak sekolah untuk mencarikan pelatih.

Di tahun pertama teater kami memenangkan sebuah kompetisi bagi pelajar. Dan kami rutin pentas setiap event di sekolah. Tentunya kegiatan ini banyak mengambil porsi waktu saya.

Meski prestasi akademis tetap baik namun orang tua saya mulai khawatir dan meminta saya untuk lebih disiplin waktu. Masuk SMA saya tidak diperbolehkan melamar ke ektrakurikuler teater. Padahal SMA saya juga terkenal dengan kiprahnya di festival teater. Akhirnya jadilah saya tidak mendaftar ektrakurikuler tesebut.

Suatu hari saya dimintai bantuan untuk membantu sebuah pementasan. Dengan dalih ‘tidak-ada keterikatan-hanya-satu-pementasan’ saya setuju. Kemudian ada lagi pementasan untuk festival.

Lagi-lagi saya diajak berpartisipasi untuk peran tertentu karena saat itu kami sedang kekurangan orang. Baik. Saya pikir ‘hanya satu pementasan saja, tidak terikat’. Lalu saya ikut. Sialnya (atau untungnya?) kami lolos seleksi tahap awal festival dan pementasan yang sama harus dimainkan lagi untuk seleksi berikutnya.

Jadi, saya bermain lagi dan kami meraih juara dua. Setelah itu para pemenang diminta bermain lagi untuk pembukaan Teater Kecil, TIM. Jadi saya, yang sudah kadung sebagai pemain. Juga main lagi. Dan begitu berjalan hingga saya lulus SMA.

Masuk kuliah, orangtua saya bilang dengan jelas, ‘Jangan ambil pilihan mata kuliah seni teater!’. Saat itu meski saya di Fakultas Psikologi, ada mata kuliah wajib seni bagi para mahasiswa baru. Ada tiga pilihan yang boleh diisi. Jadi karena tidak boleh, saya memasukkan teater di pilihan ketiga.

Pilihan pertama pada film dan kedua fotografi. Tanpa saya duga, pilihan tersebut dipilih oleh kampus secara acak. Dan muncullah pengumuman saya di kelas teater.

Saya pikir saat itu, ‘OK, ini sudah terlalu banyak kebetulan’. Di kelas teater, ada tawaran casting untuk sebuah pementasan besar yang tentunya akan menambahkan nilai.

Seorang teman sekelas—juga sefakultas—mengajak saya untuk ikut casting itu. Tapi casting dilakukan di saat yang sama dengan pertemuan Pers Kampus di mana saya mendaftar sebagai fotografer. Jadi saya hanya bisa berpikir, ‘Kalau waktunya ada, saya datang. Kalau terlambat ya sudah.’ Dan seleksi pers kampus hari itu selesai terlambat.

Tapi saya putuskan untuk tetap berjalan melewati lokasi casting. Saat itu lokasi di Teater Daun, FIB. Dari kejauhan saya melihat orang menyapu panggung. ‘Ya sudah,’ saya pikir, ‘castingnya sudah selesai.’

Tapi begitu saya mendekati tempat bermain, saya melihat beberapa orang di sana. Satu diantaranya memanggil saya dengan riang dan keras: ‘SIPUT!’ Panggilan semasa SMA. Itu adalah suara Wanodya Bangun Pertiwi—Wano. Dan panggilan berikutnya, ‘Sipuuuuuut!’ Tika Primandari. Dua orang teman baik di teater SMA dulu.

Astaga. Saya senang sekali saat itu. Dan benar saja, ternyata casting bahkan belum dimulai. Saya menyapa teman sekelas yang tempo hari mengajak ikut casting.

Kami bermain berpasangan. Hingga saat pengumuman, kami mendapatkan call back. Saya memutuskan meluangkan waktu berlatih. Sementara teman sekelas saya tertahan dengan kegiatan lainnya, hingga tidak bisa ikut. Akhir cerita, dia memilih kegiatannya di luar teater dan saya bermain di sebuah pentas besar pertama di muka publik dengan teater ini: Teater Sastra Universitas Indonesia.

——————————————

Bersambung ke tulisan berikutnya.

Putri Ayudya
Putri Ayudya Contributor

Sosok yang mungkin lebih dikenal melalui program televisi ‘Jejak Petualang’ ini adalah salah satu anggota Teater Sastra UI. Putri mengenyam pendidikan S1 di fakultas Psikologi UI pada 2006. Selang dua tahun kemudian, ia menjadi anggota Teater Sastra UI setelah bermain pada pementasan ‘Sayang Aku HIV, Kamu Ngapain Aja?’ (2009). Kemudian aksi panggungnya semakin berkembang dengan menjadi Lady Macbeth dalam ‘Tragedi Macbeth’ karya William Shakespeare yang merupakan hasil terjemahan dan penyutradaraan I. Yudhi Soenarto.

Leave a Reply